Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 April 2025 | 02.48 WIB

Cetak Rekor Baru, Uang Beredar di Tiongkok Buka Peluang Bitcoin Tembus USD 90.000

Ilustrasi bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Lonjakan likuiditas global dan regional memberi angin segar bagi aset kripto, terutama Bitcoin. Menurut analis, target harga USD 90.000 (setara Rp 1,47 miliar dengan kurs Rp 16.400) bukan lagi mimpi jauh, apalagi setelah data terbaru menunjukkan lonjakan M2 money supply atau jumlah uang beredar di Tiongkok menyentuh rekor tertinggi baru.

Data dari TradingView menunjukkan bahwa M2 Tiongkok telah mencapai USD 326,13 triliun, naik konsisten dan memecahkan rekor sebelumnya.

Kenaikan ini mengindikasikan bertambahnya uang yang tersedia dalam sistem keuangan, dan secara historis kondisi seperti ini cenderung mendorong dana masuk ke aset berisiko tinggi seperti saham dan kripto.

“Printer uang kembali menyala. Aset berisiko akan segera melesat,” ujar analis Kong Trading, dikutip BeInCrypto, Jumat (19/4).

Analis dari Brickken, Enmanuel Cardozo D’Armas, menegaskan bahwa jika tren ini berlanjut, maka harga Bitcoin yang kini berada di sekitar USD 85.000 (Rp 1,39 miliar) bisa menembus angka psikologis USD 90.000 (Rp 1,47 miliar) dalam waktu dekat.

“Jika M2 Tiongkok terus naik, kita bisa melihat Bitcoin menguji ulang level USD 90.000 berdasarkan tren sebelumnya,” ungkap Enmanuel kepada BeInCrypto.

Prediksi ini juga senada dengan pandangan analis Valentin Fournier dari Blockhead Research Network (BRN) yang menyebut USD 90.000 sebagai target teknikal Bitcoin berikutnya.

Namun demikian, Enmanuel juga mengingatkan bahwa masih ada banyak faktor lain yang bisa menghambat pergerakan bullish ini.

“Kalau The Fed benar-benar memangkas suku bunga pada Mei atau Juni, itu akan jadi bahan bakar tambahan. Tapi kalau ketegangan dagang dengan Tiongkok meningkat atau regulasi kripto diperketat lagi, target ini bisa jadi sulit dicapai,” tambahnya.

Konteks makroekonomi memang masih penuh tekanan. Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok belum mereda, sementara Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan belum akan ada pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Di sisi lain, laporan juga menyebut bahwa pemerintah daerah di Tiongkok tengah melikuidasi aset kripto hasil sitaan melalui perusahaan swasta, sebagai bagian dari upaya menopang keuangan lokal di tengah perlambatan ekonomi.

Kendati sinyal dari naiknya M2 sangat bullish, analis menekankan bahwa ini bukan satu-satunya faktor yang menentukan arah pasar. Kombinasi antara kebijakan suku bunga, regulasi, dan sentimen global tetap perlu dipantau.

Dengan Bitcoin kini berada di kisaran Rp 1,39 miliar, jalan menuju Rp 1,47 miliar bisa terbuka lebar asalkan faktor makro mendukung dan sentimen tetap positif. Bagi investor, ini adalah saat untuk tetap waspada sekaligus memantau peluang.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore