Ilustrasi pasar kripto yang sedang bearish. Termasuk anjloknya harga bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Harga Bitcoin kembali tergelincir, bahkan sempat menembus di bawah USD 80.000 atau sekitar Rp 1,31 miliar pada Senin (7/4) karena kekhawatiran pasar atas kebijakan tarif dagang global yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut laporan The Block, Bitcoin anjlok lebih dari 3 persen hanya dalam waktu dua jam, dan total mencatat penurunan sebesar 3,4 persen dalam 24 jam terakhir.
Ethereum bahkan lebih parah, jatuh hampir 8 persen dalam periode yang sama. Rasio harga antara BTC dan ETH juga merosot ke titik terendah dalam lima tahun terakhir, mengindikasikan Ethereum mengalami koreksi lebih dalam dibanding Bitcoin.
Indeks GMCI 30, yang melacak pergerakan 30 aset kripto teratas, menunjukkan pelemahan menyeluruh sebesar 6 persen dalam sehari. Sejak awal tahun 2025, indeks tersebut telah kehilangan lebih dari 32 persen nilainya.
Penurunan ini terjadi menjelang dibukanya kembali pasar saham global pada Senin (7/4), setelah akhir pekan yang dipenuhi kecemasan akibat tarif dagang baru AS.
Presiden Trump, yang pada Rabu (2/4) menyebut hari tersebut sebagai “Liberation Day,” memberlakukan tarif 10 persen atas hampir semua barang impor, dengan tarif yang lebih tinggi dikenakan terhadap negara-negara seperti Tiongkok, Uni Eropa, dan Jepang.
Di tengah koreksi ini, beberapa token justru mencetak keuntungan. Pi Network (PI) mencatat kenaikan harian sebesar 1,52 persen, dan ZCash (ZEC) naik 0,7 persen, menjadi pengecualian dari tekanan pasar secara keseluruhan.
CEO Injective, Eric Chen, menilai bahwa Bitcoin masih lebih tangguh dibanding altcoin karena struktur pasarnya telah berubah pasca disetujuinya ETF Bitcoin spot.
“Permintaan kini datang dari dana pensiun, dana makro, dan kas perusahaan seperti MicroStrategy dan GameStop,” ujar Chen kepada The Block.
Kondisi ini memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai dalam situasi ketidakpastian ekonomi global, namun juga menandakan bahwa tekanan jangka pendek akibat kebijakan fiskal proteksionis belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Para analis pun memperkirakan volatilitas tinggi masih akan terus berlanjut, setidaknya hingga pasar mendapatkan kepastian dari arah kebijakan ekonomi AS berikutnya.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
