Pendiri Cardano (ADA) Charles Hoskinson. (Chartwell Speakers)
JawaPos.com – Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, angkat bicara menanggapi serangkaian tuduhan yang menyebut dirinya melakukan pelanggaran akademik dan menyebut Cardano sebagai proyek scam.
Dalam siaran langsung berdurasi 36 menit yang emosional di akun Youtube-nya, Hoskinson membantah keras tuduhan tersebut. Dia memberikan pembelaan atas kontribusinya baik di dunia akademik maupun pengembangan blockchain.
Tuduhan bermula dari keterlibatannya dalam penulisan makalah ilmiah multidisiplin yang berkaitan dengan ekspedisi penyelaman laut di lepas pantai Papua Nugini.
Beberapa pihak menuding Hoskinson membeli nama untuk masuk sebagai penulis. Ia membantah tudingan itu dan menyebutnya sebagai tak berdasar dan bermotif pribadi.
“Aku memang ikut ekspedisi itu dan berkontribusi semampuku. Aku bukan ahli geologi, apalagi astrogeologi, dan tak pernah mengaku sebagai ahli. Tapi aku terlibat dalam pendanaan, desain alat pemulihan, hingga proses pengambilan sampel di kapal,” kata Hoskinson seperti dikutip dari live di akun Youtube-nya, Sabtu (22/3).
Menurutnya, makalah itu bukanlah karya ilmiah revolusioner, melainkan dokumen awal sebagai dasar penelitian lanjutan. Ia menegaskan, sebagian besar kontribusi akademik datang dari para ilmuwan yang terafiliasi dengan Harvard.
Cardano Bukan Scam, Justru Proyek Penuh Inovasi
Setelah menanggapi isu akademik, Hoskinson beralih membela Cardano dari tuduhan lama yang menyebut proyeknya sebagai scam.
Ia menegaskan bahwa Cardano telah berjalan hampir delapan tahun tanpa mengalami peretasan besar maupun gangguan sistem.
“Cardano dimulai dari Jepang pada 2015 hanya dengan pendanaan sekitar USD 70 juta. Sekarang, Cardano adalah ekosistem senilai USD 26 miliar atau sekitar Rp 421,2 triliun. Kami telah menghasilkan 240 makalah ilmiah dan jutaan baris kode,” ujarnya.
Ia menyoroti sejumlah pencapaian teknis Cardano seperti protokol proof-of-stake pertama yang terbukti aman, model transaksi extended UTXO, bahasa smart contract Plutus, dan pengembangan rantai privat bernama Midnight.
Cardano juga disebutnya sebagai blockchain paling aman dan terdesentralisasi saat ini, berdasarkan indikator EDI (Effective Decentralization Index).
Hoskinson bahkan membandingkan Cardano dengan proyek-proyek yang runtuh seperti Celsius, Luna, FTX, hingga BitConnect. “Di mana scamming-nya? Selama waktu itu, ribuan proyek gagal, kami masih masuk 10 besar. Kami masih ada, masih berkembang,” tegasnya.
Hoskinson juga menyinggung fenomena yang ia sebut “Charles Derangement Syndrome” (CDS), yaitu kecenderungan kelompok tertentu untuk menyerangnya secara personal. Ia menyebut keberadaan server Discord, akun parodi, hingga kanal YouTube yang isinya hanya menyerang dirinya dan Cardano.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
