Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Maret 2025 | 04.33 WIB

Bank of Korea Tolak Bitcoin: Terlalu Volatil untuk Jadi Cadangan Negara

Iliustrasi Korea Selatan disebut tertarik menjadik Bitcoin sebagai cadangan seperti Amerika Serikat. (Decrypt) - Image

Iliustrasi Korea Selatan disebut tertarik menjadik Bitcoin sebagai cadangan seperti Amerika Serikat. (Decrypt)

 

JawaPos.com – Bank of Korea (BOK) menegaskan bahwa mereka tidak mempertimbangkan untuk menambahkan Bitcoin (BTC) ke dalam cadangan devisa negara.

Keputusan ini disampaikan setelah adanya pertanyaan dari Cha Gyu-geun, anggota parlemen dari Partai Demokrat Korea.

Dalam tanggapannya, bank sentral Korea Selatan menyatakan bahwa volatilitas tinggi Bitcoin menjadi alasan utama mengapa mereka menolak gagasan tersebut.

Mereka menegaskan bahwa mencairkan Bitcoin dalam kondisi pasar yang tidak stabil dapat menyebabkan lonjakan biaya transaksi yang signifikan.

Menurut laporan lokal, pernyataan ini adalah pertama kalinya Bank of Korea secara terbuka menyikapi kemungkinan adopsi Bitcoin sebagai bagian dari cadangan devisa negara.

Dilansir dari Bitcoin.com, penolakan ini muncul di tengah meningkatnya diskusi global mengenai peran kripto dalam strategi ekonomi nasional.

Sebelumnya, pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat mengusulkan menciptakan cadangan strategis Bitcoin dengan mentransfer aset kripto yang disita ke dalam stok nasional.

Meski beberapa negara seperti Brasil dan Republik Ceko telah mempertimbangkan langkah serupa, Bank of Korea tetap skeptis dan menyoroti bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) dan Swiss National Bank juga memiliki pandangan negatif terhadap Bitcoin sebagai cadangan devisa.

Selain volatilitas, BOK juga menyoroti standar yang ditetapkan oleh International Monetary Fund (IMF). Menurut mereka, Bitcoin tidak memenuhi kriteria IMF untuk perhitungan cadangan devisa resmi, sehingga menjadikannya kurang layak untuk diadopsi sebagai aset cadangan nasional.

Haruskah Negara Menyimpan Bitcoin?

Sejak ide cadangan Bitcoin muncul, debat di kalangan ekonom dan regulator semakin memanas. Para pendukung percaya bahwa Bitcoin dapat menjadi "emas digital" dan melindungi nilai cadangan negara dari inflasi mata uang fiat.

Namun, para kritikus menyoroti risiko besar yang datang dengan adopsi aset yang sangat fluktuatif ini.

Bank of Korea menegaskan bahwa setiap keputusan terkait penyimpanan Bitcoin dalam cadangan negara harus dilakukan dengan sangat hati-hati, karena bisa berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Dengan sikap skeptis yang ditunjukkan oleh Korea Selatan dan beberapa bank sentral besar lainnya, masa depan Bitcoin sebagai aset cadangan negara masih menjadi tanda tanya besar.

Namun, dengan semakin banyak negara yang mengevaluasi peran kripto dalam strategi ekonomi mereka, tidak menutup kemungkinan tren ini akan berubah di masa depan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore