Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Maret 2025 | 09.45 WIB

Ancaman Quantum pada Bitcoin: Apakah Koin yang Rentan Harus Dibakar?

 

Ilustrasi bitcoin. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)

JawaPos.com – Perdebatan mengenai dampak komputer kuantum terhadap Bitcoin (BTC) semakin memanas. Salah satu tokoh terkemuka dalam komunitas kripto, Jameson Lopp, menegaskan bahwa memulihkan Bitcoin yang rentan terhadap serangan quantum bukanlah solusi yang etis atau aman bagi jaringan BTC.

Dalam artikel yang diterbitkan pada Sabtu (16/3), Lopp yang juga pendiri Casa, perusahaan penyimpanan aset kripto, mengkritik keras gagasan bahwa Bitcoin yang hilang bisa dipulihkan dengan komputer kuantum.

Menurutnya, langkah ini justru akan melemahkan prinsip dasar Bitcoin, yaitu resistensi terhadap sensor, imutabilitas transaksi, dan konservatisme jaringan.

"Mengizinkan pemulihan Bitcoin dengan komputer kuantum sama saja dengan redistribusi kekayaan. Ini berarti Bitcoin hanya akan berpindah dari mereka yang tidak memahami komputer kuantum ke pihak yang lebih maju secara teknologi," ujar Lopp seperti dikutip dari Cointelegraph.

Menurutnya, membiarkan komputer kuantum merebut Bitcoin yang hilang bisa menciptakan ketimpangan baru dalam kepemilikan aset digital dan justru membahayakan keamanan jaringan BTC secara keseluruhan.

Perdebatan mengenai ancaman komputer kuantum terhadap Bitcoin terus menjadi topik hangat. Sebagian pakar berpendapat bahwa teknologi ini masih butuh puluhan tahun sebelum bisa memecahkan enkripsi modern, sementara yang lain menganggap ancaman ini bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Pada Oktober 2024, sekelompok peneliti dari Shanghai University mengklaim telah berhasil memecahkan standar enkripsi militer dan perbankan dengan menggunakan komputer kuantum. Namun, klaim ini segera mendapat bantahan dari YouTuber Mental Outlaw, yang menyebut bahwa penelitian tersebut dilebih-lebihkan dan tidak benar-benar memecahkan enkripsi modern.

Menurut Mental Outlaw, komputer kuantum yang digunakan dalam eksperimen tersebut hanya mampu memfaktorkan angka 2.269.753, sebuah pencapaian baru tetapi masih jauh tertinggal dibandingkan komputer klasik yang sudah mampu memecahkan kunci 892-bit. Sementara itu, enkripsi modern biasanya menggunakan kunci 2048 hingga 4096-bit, yang jauh lebih sulit ditembus.

Beberapa ahli menyarankan agar Bitcoin yang berisiko diserang oleh komputer kuantum sebaiknya dihapus dari jaringan atau di-burn, alih-alih dibuka kembali untuk diambil oleh pemilik baru.

Menurut Lopp, pendekatan ini lebih etis dan lebih aman bagi ekosistem Bitcoin. Jika Bitcoin yang hilang bisa direbut oleh pemilik komputer kuantum pertama yang berhasil memecahkan enkripsinya, maka konsep keamanan dan kepemilikan aset digital akan hancur.

Namun, perdebatan ini masih jauh dari selesai. Apakah komunitas Bitcoin akan memilih untuk menghapus koin yang rentan quantum atau justru membiarkan evolusi teknologi menentukan siapa yang layak memilikinya? Yang jelas, era komputer kuantum semakin dekat, dan Bitcoin mungkin perlu beradaptasi untuk tetap bertahan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore