
SEMANGAT TINGGI: Vanessa Anggraini menjelaskan menu kepada pengunjung Onni House Surabaya (15/12/20230). Sebelum magang, dia menjalani pelatihan bersama Destiny Learning Center.
PENGUNJUNG kafe ONNI House yang baru datang dilayani dengan ramah oleh Vanessa Anggraini. Dengan senyum dan sikap antusias, dia berusaha sebisa mungkin menjawab pertanyaan pelanggan. ”Kadang mereka tanya (menu) yang paling enak apa,” ucap gadis 21 tahun itu. Dia kemudian membacakan hampir lebih dari lima menu yang menurutnya enak. ”Selamat menikmati. Terima kasih,” ucapnya sembari menyajikan menu kepada pengunjung.
Ini bukan pengalaman pertama bagi Vanessa. Sebelumnya, penyandang down syndrome itu sudah dua kali menjalani sesi ”magang” di ONNI House. ”Saya senang berinteraksi dengan orang baru,” ujarnya.
Sylvia Gunawan, sang ibu, mengatakan, Vanessa memang sudah beberapa kali mengikuti kegiatan serupa. Dia juga rutin berperan sebagai penerima tamu dalam acara komunitas down syndrome. ”Anaknya memang ingin belajar dan excited,” imbuhnya.
Vanessa dan enam anak berkebutuhan khusus (ABK) lainnya sudah menjalani program selama tiga kali di restoran kawasan Surabaya Selatan itu. ”Awalnya hanya untuk kegiatan ulang tahun restoran kami. Ternyata sambutan pelanggan sangat baik,” ucap Marketing Communications ONNI House Cecilia Hermanto.
Mereka terinspirasi dari pramusaji dengan demensia yang bekerja di salah satu restoran di Jepang. Cecilia kemudian dihubungkan dengan Destiny Learning Center yang menaungi Vanessa dan kawan-kawannya.
Tanggapan yang bagus dari pelanggan dan orang-orang yang terlibat membuat ONNI House memperpanjang program magang hingga sesi ketiga yang berlangsung pada Jumat (15/12) lalu. Tiap sesi biasanya berdurasi sekitar tiga jam supaya mereka tidak kelelahan. ”Satu sesi biasanya ada 2–3 orang,” jelas Cecilia. Usia peserta beragam, mulai 12–29 tahun.
Tirza Dian Octivia, pendiri Destiny Learning Center, mengatakan, kerja sama dengan ONNI House menjadi momen penting bagi anggotanya. ”Kami memang fokus pada pelatihan skill untuk kemandirian mereka. Kalau terapi, itu sudah banyak dilakukan lembaga lain,” paparnya.
Pihaknya ingin memperluas kerja sama serupa dengan entitas swasta lainnya. Hal itu supaya makin banyak anggota mereka yang bisa mempraktikkan kemampuannya di tengah masyarakat. ”Targetnya adalah semua bisa mandiri setelah punya usia yang cukup,” imbuh perempuan yang sudah 10 tahun berkecimpung dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus tersebut.
Peserta yang bisa menjalani magang dipilih berdasar kemampuan dan tipe pekerjaannya. Sebagai waiters, dipilih yang sudah mampu berinteraksi dengan orang baru, tidak pemalu, dan mampu membaca serta menulis.
Setelah menjalani terapi, mereka membutuhkan penyesuaian untuk masuk dunia profesional. ”Inilah mengapa kami berharap makin banyak tempat yang mau membantu difabel menjajal pekerjaan,” tandas Tirza. (dya/c19/nor)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022