
Ilustrasi seseorang terkena saraf kejepit di leher.
JawaPos.com - Selam ini publik menganggap penyakit saraf kejepit hanya bisa ditangani dengan cara operasi. Selain itu, anggapan keberhasilan operasi yang membahayakan atau berisiko lumpuh juga banyak menjadi ketakutan di masyarakat. Padahal hal itu tidak benar. Saat ini teknologi non invasif atau bukan operasi sudah bisa dilakukan.
Hal itu ditegaskan oleh Pakar Nyeri dari Lamina Pain and Spine Center yang dulu bernama Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS. Nyeri leher adalah salah satu dari jenis nyeri tulang punggung yang paling mengganggu dan bisa membatasi mobilitas pengidapnya. Banyak penyebab nyeri leher, salah satunya adalah karena servikal Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau saraf terjepit di area leher (servikal).
Diagnosis HNP servikal dilakukan dengan pemeriksaan fisik, neurologis, radiologis seperti CT-scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Sebelum tindakan biasanya pasien akan diarahkan dulu untuk pengobatan dengan obat-obatan seperti nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID), steroid, dan tirah baring (bed rest).
"Karena sulitnya menjangkau dan menangani herniasi disk servikal ini, selama bertahun-tahun para ahli medis mencoba untuk menemukan berbagai teknologi untuk penanganan kasus ini. Secara historis berbagai pembedahan untuk menangangi tulang leher dianggap berisiko tinggi dan biasanya membuat pasien harus dirawat berhari-hari," kata dr. Mahdian dalam konferensi pers, Selasa (19/2).
Karena kebutuhan untuk mendapatkan hasil pembedahan yang lebih baik dan harapan pasien untuk cepat sembuh itu para ahi kesehatan dunia akhirnya menemukan teknik bedah terbaru yang disebut Percutaneous Endoscopy. Namun baru pada tahun 1990, Tajima dan kawan-kawan memperkenalkan teknik baru tersebut untuk penanganan HNP servikal, namanya Percutaneous Endoscopic Cervical Discectomy (PECD). Sering disingkat pula menjadi Endoskopi Servical.
Beruntung di Indonesia sejak 8 November 2018 lalu dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS telah menjadi dokter Indonesia yang menjalankan praktek PECD pada pasien pertama di RS Meilia Cibubur. Tantangannya memang tak mudah untuk mewujudkan teknik yang sudah dikenal sejak tahun 1990-an di negara lain ini baru bisa diterapkan di Indonesia.
"Masalah mahalnya alat yang harus di beli dokter atau rumah sakit, menjadi masalah yang harus menjadi perhatian bersama,” kata dr. Mahdian.
Teknik PECD, menganut dua pendekatan atau teknik yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Keduanya bertujuan mengilangkan herniasi bantalan sendi tulang belakang yang menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang. Dengan bantuan penglihatan langsung melalui kamera endoskopi yang ditampilkan pada layar.
"Kami lakukan teknik minimal invasif. Servikal enggak perlu operasi. Dan enaknya pasien bisa pulang hari. Biaya lebih minimal. Risiko minimal," tegasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022