Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Juli 2020 | 22.29 WIB

Porsi Aman Santap Daging Kurban Bagi Penderita Diabetes dan Hipertensi

Petugas kurban  mengemas daging kurban menggunakan besek yang terbuat dari anyaman bambu di Kebayoran Lama, Jakarta, Minggu (11/8/2019). Penggunaan wadah daging kurban yang terbuat dari bambu ini dilakukan sebagai pengganti plastik. Hal ini dilakukan untu - Image

Petugas kurban mengemas daging kurban menggunakan besek yang terbuat dari anyaman bambu di Kebayoran Lama, Jakarta, Minggu (11/8/2019). Penggunaan wadah daging kurban yang terbuat dari bambu ini dilakukan sebagai pengganti plastik. Hal ini dilakukan untu

JawaPos.com - Seseorang yang sudah memiliki riwayat penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes sangat ketat dalam mengonsumsi asupan makanan. Jenis dan jumlah porsinya harus ekstra ketat. Sebab jika tidak, maka gula darah atau tekanan darah bisa melonjak. Tapi bukan berarti, dalam momen Idul Kurban, mereka tidak boleh mengonsumsinya sama sekali.

Direktur Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology Center (SEAFAST), Prof Nuri Andarwulan menjelaskan, paling penting adalah secara bijak memilih daging kurban dengan bagian yang rendah kolesterolnya. Dan ada batasan konsumsinya untuk orang normal sehat.

Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk protein yaitu sekitar 50 gram protein. Kebutuhan gizi ini bisa berasal dari sekitar 200 gram daging. Kadar protein daging sapi sekitar 24-26 persen.

"Untuk orang sakit hipertensi dan diabetes, protein hewani dikurangi," jelasnya kepada JawaPos.com, Kamis (30/7).

Berapa batasannya? Maksimal orang dengan penyakit penyerta adalah makan daging kurban 50 persen atau separuh porsi orang normal.

"Jika bisa dikurangi lagi hingga 20 persen-nya atau dihindari lebih baik," jelasnya.

Meski begitu, tetap berkonsultasi dulu dengan dokter atau ahli gizi soal porsinya. Dan pemilihan daging meski dibuat sate atau sop, bagian lemaknya atau gajihnya tidak diolah atau dimakan.

"Kalau hipertensi, yang dihindari bukan proteinnya tapi lemak dan kolesterolnya," katanya.

"Untuk diabetes sama, sebaiknya untuk kedua penderita itu protein nabati," tandasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=G-lzpH9boiU

 

https://www.youtube.com/watch?v=7KTKEkG8NII

 

https://www.youtube.com/watch?v=kXaoGPwYV80

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore