Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 November 2026 | 03.05 WIB

Obesitas Ternyata Tingkatkan Risiko Depresi, Dokter Jiwa Beberkan Penyebabnya

Kampanye Hidup Lebih Ringan untuk membuat para penderita obesitas untuk menghadapi masalah berat badan bersama (Istimewa) - Image

Kampanye Hidup Lebih Ringan untuk membuat para penderita obesitas untuk menghadapi masalah berat badan bersama (Istimewa)

JawaPos.com - Obesitas ternyata berkaitan erat dengan kesehatan mental yang bisa meningkatkan risiko depresi. Hubungan keduanya bahkan berlangsung dua arah. Orang dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, sementara orang yang mengalami depresi juga lebih rentan mengalami obesitas.

Sebuah meta-analisis terhadap 15 penelitian jangka panjang yang melibatkan sekitar 58.000 peserta menemukan, orang dengan obesitas memiliki kemungkinan 55 persen lebih tinggi mengalami depresi. Sebaliknya, orang dengan depresi memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi mengalami obesitas.

Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ menjelaskan, hubungan obesitas dan kesehatan mental dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya adalah stigma sosial yang kerap dialami orang dengan obesitas, mulai dari diskriminasi hingga komentar negatif mengenai bentuk tubuh.

"Hubungan obesitas dan kesehatan mental berjalan dua arah dan berbeda pada setiap individu. Orang dengan obesitas dapat menghadapi stigma, tekanan psikologis, dan pengalaman sosial yang memengaruhi kesejahteraannya," ujar dr. Putri kepada wartawan, Kamis (5/11).

Pengalaman tersebut dapat menambah tekanan psikologis dan mengganggu kesejahteraan emosional. Bahkan, stigma berat badan bisa membuat seseorang enggan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan karena khawatir mendapat penilaian negatif.

Sebaliknya, kondisi kesehatan mental tertentu juga dapat memengaruhi kebiasaan sehari-hari seseorang. Perubahan pola tidur, aktivitas fisik, nafsu makan, hingga perilaku lainnya dapat berkontribusi terhadap risiko obesitas.

Karena itu, dr. Putri mengingatkan agar kondisi tubuh tidak dijadikan dasar untuk menilai kesehatan mental maupun karakter seseorang. Setiap individu memiliki pengalaman dan kebutuhan penanganan yang berbeda.

"Setiap orang dengan obesitas memiliki pengalaman yang berbeda. Kondisi tubuh seseorang tidak dapat digunakan untuk menilai kesehatan mental, karakter, maupun kualitas dirinya. Hindari asumsi, pahami setiap individu secara utuh," tegasnya.

Di sisi lain, akses terhadap dukungan medis bagi orang dengan obesitas masih menjadi tantangan. Studi ACTION APAC Indonesia menunjukkan hanya 30 persen responden dengan obesitas yang pernah membicarakan masalah berat badan mereka dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir.

Salah satu penghambatnya adalah anggapan bahwa menurunkan berat badan merupakan tanggung jawab pribadi. Sebanyak 43 persen responden menyebut pandangan tersebut sebagai alasan yang membuat mereka enggan memulai percakapan dengan tenaga kesehatan.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore