Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 November 2026 | 02.37 WIB

Penyandang Talasemia Diperkirakan Lebih Banyak dari Data, Deteksi Dini Diperlukan

Komitmen kolaborasi berbagai pihak untuk skrining talasemia lebih awal dilakukan PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia (Istimewa)  - Image

Komitmen kolaborasi berbagai pihak untuk skrining talasemia lebih awal dilakukan PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia (Istimewa) 

JawaPos.com - Jumlah penyandang talasemia di Indonesia diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan angka yang selama ini tercatat. Minimnya pemeriksaan dan banyaknya pembawa sifat talasemia yang tidak menyadari kondisinya membuat penyakit kelainan darah bawaan tersebut berpotensi menjadi fenomena gunung es.

Data Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) pada 2024 yang dikutip Kementerian Kesehatan RI mencatat sebanyak 13.939 penyandang talasemia di Indonesia. Sementara itu, sekitar 3–10 persen penduduk Indonesia atau setara 8,5–27 juta orang diperkirakan merupakan pembawa sifat talasemia. Sebagian besar belum mengetahui status kesehatannya karena tidak menunjukkan gejala khas.

Ketua umum Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes, Sp.PK, Subsp. KV (K), Subsp. BDKT (K) menegaskan bahwa deteksi dini menjadi penting karena pembawa sifat talasemia umumnya tidak mengalami keluhan atau gejala yang mudah dikenali. 

Tanpa pemeriksaan laboratorium, seseorang bisa tidak mengetahui bahwa dirinya membawa kelainan genetik tersebut.

"Pencegahan dan deteksi dini talasemia membutuhkan komitmen dan kolaborasi berkelanjutan," ujarnya, Kamis (5/11).

Ia menerangkan, risiko talasemia semakin besar apabila dua orang yang sama-sama menjadi pembawa sifat talasemia menikah dan memiliki keturunan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan anak lahir dengan talasemia mayor yang membutuhkan perawatan medis sepanjang hidup.

Penyandang talasemia mayor harus menjalani transfusi darah secara berkala. Selain berdampak terhadap kualitas hidup pasien dan keluarganya, kebutuhan perawatan jangka panjang juga membutuhkan dukungan sumber daya kesehatan secara berkelanjutan.

Kondisi tersebut, kata dr. Teguh mendorong PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia memperkuat kolaborasi skrining talasemia. 

Program ini diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperluas pemeriksaan, serta memastikan tindak lanjut medis yang tepat.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore