
Komitmen kolaborasi berbagai pihak untuk skrining talasemia lebih awal dilakukan PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia (Istimewa)
JawaPos.com - Jumlah penyandang talasemia di Indonesia diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan angka yang selama ini tercatat. Minimnya pemeriksaan dan banyaknya pembawa sifat talasemia yang tidak menyadari kondisinya membuat penyakit kelainan darah bawaan tersebut berpotensi menjadi fenomena gunung es.
Data Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) pada 2024 yang dikutip Kementerian Kesehatan RI mencatat sebanyak 13.939 penyandang talasemia di Indonesia. Sementara itu, sekitar 3–10 persen penduduk Indonesia atau setara 8,5–27 juta orang diperkirakan merupakan pembawa sifat talasemia. Sebagian besar belum mengetahui status kesehatannya karena tidak menunjukkan gejala khas.
Ketua umum Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes, Sp.PK, Subsp. KV (K), Subsp. BDKT (K) menegaskan bahwa deteksi dini menjadi penting karena pembawa sifat talasemia umumnya tidak mengalami keluhan atau gejala yang mudah dikenali.
Tanpa pemeriksaan laboratorium, seseorang bisa tidak mengetahui bahwa dirinya membawa kelainan genetik tersebut.
"Pencegahan dan deteksi dini talasemia membutuhkan komitmen dan kolaborasi berkelanjutan," ujarnya, Kamis (5/11).
Ia menerangkan, risiko talasemia semakin besar apabila dua orang yang sama-sama menjadi pembawa sifat talasemia menikah dan memiliki keturunan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan anak lahir dengan talasemia mayor yang membutuhkan perawatan medis sepanjang hidup.
Penyandang talasemia mayor harus menjalani transfusi darah secara berkala. Selain berdampak terhadap kualitas hidup pasien dan keluarganya, kebutuhan perawatan jangka panjang juga membutuhkan dukungan sumber daya kesehatan secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut, kata dr. Teguh mendorong PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia memperkuat kolaborasi skrining talasemia.
Program ini diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperluas pemeriksaan, serta memastikan tindak lanjut medis yang tepat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022