
Ilustrasi Stroke (brgfx/freepik.com)
JawaPos.com - Pasien stroke di Indonesia masih menghadapi persoalan keterlambatan sebelum mendapatkan penanganan medis. Riset terbaru mengungkap, proses rujukan antarrumah sakit hingga persoalan pembiayaan menjadi sejumlah faktor yang dapat membuat pasien kehilangan waktu berharga.
Temuan tersebut tercantum dalam laporan Strengthening Stroke System Readiness Across ASEAN yang diluncurkan Siemens Healthineers dalam ajang Hospital Management Asia 2026 di Bangkok, Thailand. Laporan ini menghimpun pandangan tujuh pakar kesehatan dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Salah satu pakar asal Indonesia yang terlibat dalam laporan tersebut adalah Direktur Medik Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta, dr. Affan Priyambodo.
Para pakar menilai persoalan penanganan stroke di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aspek klinis. Waktu juga banyak terbuang dalam proses rujukan pasien dari satu rumah sakit ke fasilitas kesehatan lain sebelum tindakan medis dapat dilakukan.
“Setiap sistem layanan kesehatan di Asia Tenggara berada pada tahap yang berbeda-beda dalam pengembangan layanan stroke. Namun, banyak tantangan yang dihadapi sebenarnya sama,” ujar Fabrice Leguet, Managing Director, ASEAN, dan Head of Enterprise Services, Asia Pasifik & Jepang, Siemens Healthineers.
Indonesia sebenarnya telah memperkuat kapasitas layanan stroke melalui Program Pengampuan Stroke yang mencakup 514 kabupaten/kota. Hingga April 2026, sebanyak 231 kabupaten/kota telah memiliki kemampuan melakukan thrombolysis, sementara 81 kabupaten/kota sudah mampu melakukan thrombectomy.
Namun, layanan tersebut belum tersebar merata. Mayoritas fasilitas dengan kemampuan trombektomi masih berada di wilayah barat Indonesia, terutama Jawa. Kondisi ini membuat pasien stroke berat di wilayah lain harus menjalani proses rujukan ke rumah sakit yang memiliki fasilitas dan tenaga untuk melakukan tindakan tersebut.
Keterlambatan juga dapat terjadi sebelum rujukan dimulai. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai gejala stroke, belum terpaduanya layanan medis darurat atau EMS dan sistem triase, serta perbedaan alur kerja antar-rumah sakit turut menjadi kendala.
“Di Indonesia, tantangannya adalah memastikan jenis stroke yang dialami pasien dapat diketahui secara tepat dan cepat. Hasil penanganan sangat bergantung pada seberapa baik seluruh sistem layanan stroke bekerja secara terpadu, mulai dari mengenali gejala dan mengaktifkan layanan medis darurat hingga diagnosis, penanganan, dan rehabilitasi yang cepat,” ujar Alfred Fahringer, Presiden Direktur Siemens Healthineers di Indonesia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
