
Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Rizka Andalusia dalam konferensi pers Annual Meeting Asian Cellular Therapy Organization di Hotel Borobudur (Royyan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyambut baik perkembangan terapi sel di Indonesia yang dinilai semakin pesat. Namun, penerapannya dalam pelayanan kesehatan tetap harus memenuhi sejumlah persyaratan ketat, terutama terkait keamanan, efektivitas, dan keterjangkauan bagi masyarakat.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalusia mengatakan, perkembangan terapi sel di Indonesia kini tidak hanya menyasar penyakit yang belum memiliki alternatif pengobatan, tetapi juga mulai berkembang untuk terapi regeneratif dan penyakit degeneratif.
Menurut Rizka, pemerintah tidak ingin perkembangan terapi sel hanya berorientasi pada kemajuan teknologi. Aspek keselamatan pasien dan efektivitas terapi harus menjadi prioritas sebelum teknologi tersebut diterapkan secara luas dalam pelayanan kesehatan.
Baca Juga:Ramalan Zodiak Aries Besok Kamis 27 Agustus 2026: Cinta Perlu Kejujuran dan Keuangan Mulai Stabil
“Indonesia sendiri sudah sangat pesat perkembangan untuk terapi sel ini, baik itu yang dilakukan untuk penyakit-penyakit yang tidak ada alternatif pengobatannya, maupun yang untuk sekarang kita juga berkembang terapi sel ke arah yang untuk degeneratif, untuk perbaikan sel, regeneratif sel, dan sebagainya,” kata Rizka dalam konferensi pers Annual Meeting Asian Cellular Therapy Organization (ACTO)-Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (26/8).
Rizka menjelaskan, setidaknya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan terapi sel di Indonesia.
Pertama, keamanan dan efektivitas harus terbukti secara ilmiah.
Kemenkes menekankan bahwa hasil penelitian terapi sel harus mampu membuktikan keamanan atau safety serta efektivitas atau efficacy sebelum diterjemahkan menjadi layanan kesehatan.
“Kalau kita mau memasukkan ke dalam pelayanan kesehatan atau terapi di pelayanan kesehatan, ini tentunya pertama safety dan efikasi tadi saya sudah sampaikan harus terbukti,” ucap Rizka.
Ia menegaskan, bukti ilmiah tersebut penting karena keselamatan pasien menjadi hal utama dalam penerapan terapi sel. Kemenkes juga melakukan benchmarking dengan berbagai negara untuk memastikan pengembangan regulasi dan teknologi di Indonesia tetap mengikuti perkembangan global.
Jepang menjadi salah satu negara yang dijadikan rujukan karena dinilai lebih maju dalam pengembangan terapi berbasis sel. Indonesia bahkan memiliki peluang kolaborasi dengan Jepang dalam pengembangan stem cell untuk otot jantung menggunakan teknologi iPSC.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

4 Keunggulan Introvert yang Kini Justru Diinginkan oleh Banyak Orang Pada Era Modern
Jokowi Dikabarkan Deklarasi jadi Ketum PSI Awal November, KDM Disebut Ikut Pindah Gerbong
4 Faktor yang Membentuk Kepribadian Introvert Menurut Penjelasan Psikologi
5 Kiat Introvert Menjadi Pemimpin Tangguh Tanpa Harus Mengubah Sifat Alami
Kenaikan Target Bansos 2026: Kemensos Wajibkan Registrasi Ulang Wajah
Dari Proyek Televisi ke Liga Champions, Kisah Mirwan Suwarso dan Como 1907
KDM Dikabarkan Bakal Masuk PSI dan Duet dengan Gibran pada Pilpres 2029 Mendatang
Manajer Persipura Pasang Target Tinggi, Enam Poin Jadi Harga Mati di Dua Laga
Prediksi Skor Sevilla vs Osasuna: Los Rojillos Bidik Poin, Rekor Arrasate Jadi Ancaman!
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs PSM Makassar: Juku Eja Paksa Berbagi Poin!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022