Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 Agustus 2026 | 18.22 WIB

Anak Indonesia Masih Belum Sepenuhnya Merdeka dari Stunting, Fasilitas Penopang Tak Terpenuhi

Ilustrasi seorang anak yang gizinya tercukupi sehingga tidak terkena stunting. (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi seorang anak yang gizinya tercukupi sehingga tidak terkena stunting. (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terakhir tahun 2024 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 19,8 persen. Angka ini turun dibanding pada 2019 sebesar 27,7 persen. Namun, capaian tersebut bukan berarti anak Indonesia sepenuhnya merdeka dari stunting.

Di balik penurunan angka nasional, kesenjangan antarwilayah masih lebar. Bali mencatat prevalensi terendah sebesar 8,6 persen, disusul Jawa Timur 14,7 persen dan Kepulauan Riau 15 persen. Di sisi lain, Papua Barat Daya mencapai 30,5 persen, Sulawesi Barat 35,4 persen, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi salah satu yang tertinggi dengan 37 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan rumah penanganan stunting bukan hanya menurunkan angka nasional, tetapi juga memastikan setiap daerah memiliki fasilitas dan kemampuan yang memadai untuk mencegah anak mengalami gangguan pertumbuhan.

Kesenjangan Akses Jadi PR Besar

Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Jovita Amelia, M.Sc, Sp.GK menilai, kesenjangan prevalensi stunting antardaerah tidak terlepas dari ketimpangan akses layanan kesehatan, sanitasi, air bersih, pendidikan, dan ekonomi.

"Kalau dari kacamata saya sebagai dokter, tentu saja akses kesehatan di pedalaman menjadi salah satu PR. Selain tingkat ekonomi masyarakat, jika kurang tentu kemampuan untuk menyediakan makanan tinggi protein untuk anak juga kurang," kata dr. Jovita saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (14/8).

Menurutnya, persoalan air bersih juga selama ini memang masih menjadi tantangan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman. Padahal, faktor itu adalah salah satu yang terpenting untuk mengatasi stunting.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keluarga di daerah dengan prevalensi stunting tinggi menghadapi persoalan yang lebih kompleks. Ketika fasilitas kesehatan sulit dijangkau, daya beli terbatas, dan air bersih tidak tersedia dengan baik, maka pencegahan stunting menjadi jauh lebih sulit.

Karena itu, dr. Jovita menegaskan bahaa intervensi tidak cukup hanya berupa pemberian makanan tambahan. Infrastruktur dasar dan layanan kesehatan juga harus diperkuat.

Stunting Bukan Cuma Soal Makanan

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore