
Penyakit Tuberkolosis atau yang dikenal TBC menyerang seluruh tubuh terutama paru-paru. (Istimewa)
JawaPos.com - Rumah dengan ventilasi yang buruk dapat meningkatkan risiko penyebaran tuberkulosis (TB). Pasalnya, kondisi ruangan yang lembap dan minim sinar matahari membuat bakteri penyebab TB lebih mudah bertahan, sehingga peluang penularan melalui udara menjadi lebih besar.
Dokter spesialis paru Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), mengingatkan bahwa lingkungan yang padat penduduk dengan ventilasi minim memang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit. Saat pasien TB batuk, droplet yang mengandung bakteri akan keluar ke udara dan dapat bertahan lebih lama di ruangan yang lembap.
"Kalau di suatu rumah yang ventilasinya tidak bagus ada pasien TB yang batuk, dia mengeluarkan droplet yang mengandung kuman TB. Kuman ini akan berkembang dengan baik di suasana yang lembap," ujarnya kepada wartawan, Senin (3/8).
Baca Juga:Menkomdigi Meutya Soroti Maraknya Video Demo Lama Jelang HUT RI, Masyarakat Diminta Waspada Hoaks
Menurut Prof. Erlina, rumah-rumah yang berdempetan sering kali tidak mendapatkan cukup cahaya matahari dan sirkulasi udara yang baik. Kondisi tersebut membuat udara di dalam rumah menjadi lembap sehingga bakteri TB lebih mudah bertahan.
Akibatnya, orang yang keluar masuk rumah berisiko menghirup udara yang telah terkontaminasi bakteri TB. Ia menegaskan bahwa penularan penyakit ini terjadi melalui udara, bukan melalui penggunaan alat makan secara bersama.
"Jadi kuman TB itu menular lewat udara yang kita hirup. Bukan lewat piring, gelas, atau alat makan," tegasnya.
Karena itu, Prof. Erlina mengimbau masyarakat untuk memastikan rumah memiliki ventilasi yang memadai, rutin membuka pintu dan jendela agar sirkulasi udara lancar, serta memanfaatkan cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah sebagai salah satu upaya mengurangi risiko penularan TB.
Baca Juga:AS Mulai Kehabisan Cara Hadapi Iran, Pentagon Minta Ide Baru usai Serangan Dinilai Tak Efektif
Meski demikian, Prof. Erlina menegaskan anggapan bahwa TB hanya menyerang masyarakat yang tinggal di lingkungan kumuh atau miskin merupakan stigma yang tidak sepenuhnya benar.
Menurutnya, siapa pun dapat terkena TB, termasuk orang dengan kondisi ekonomi baik yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes.
"TB itu tidak selalu dikaitkan dengan kemiskinan atau tempat yang kotor. Walaupun itu ada benarnya, tetapi tidak absolut," pungkas Prof. Erlina.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022