Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Agustus 2026 | 13.25 WIB

Rumah dengan Ventilasi Buruk Bisa Tingkatkan Risiko Penyebaran Penyakit Tuberkulosis

Penyakit Tuberkolosis atau yang dikenal TBC menyerang seluruh tubuh terutama paru-paru. (Istimewa) - Image

Penyakit Tuberkolosis atau yang dikenal TBC menyerang seluruh tubuh terutama paru-paru. (Istimewa)

JawaPos.com - Rumah dengan ventilasi yang buruk dapat meningkatkan risiko penyebaran tuberkulosis (TB). Pasalnya, kondisi ruangan yang lembap dan minim sinar matahari membuat bakteri penyebab TB lebih mudah bertahan, sehingga peluang penularan melalui udara menjadi lebih besar.

Dokter spesialis paru Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), mengingatkan bahwa lingkungan yang padat penduduk dengan ventilasi minim memang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit. Saat pasien TB batuk, droplet yang mengandung bakteri akan keluar ke udara dan dapat bertahan lebih lama di ruangan yang lembap.

"Kalau di suatu rumah yang ventilasinya tidak bagus ada pasien TB yang batuk, dia mengeluarkan droplet yang mengandung kuman TB. Kuman ini akan berkembang dengan baik di suasana yang lembap," ujarnya kepada wartawan, Senin (3/8).

Menurut Prof. Erlina, rumah-rumah yang berdempetan sering kali tidak mendapatkan cukup cahaya matahari dan sirkulasi udara yang baik. Kondisi tersebut membuat udara di dalam rumah menjadi lembap sehingga bakteri TB lebih mudah bertahan.

Akibatnya, orang yang keluar masuk rumah berisiko menghirup udara yang telah terkontaminasi bakteri TB. Ia menegaskan bahwa penularan penyakit ini terjadi melalui udara, bukan melalui penggunaan alat makan secara bersama.

"Jadi kuman TB itu menular lewat udara yang kita hirup. Bukan lewat piring, gelas, atau alat makan," tegasnya.

Karena itu, Prof. Erlina mengimbau masyarakat untuk memastikan rumah memiliki ventilasi yang memadai, rutin membuka pintu dan jendela agar sirkulasi udara lancar, serta memanfaatkan cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah sebagai salah satu upaya mengurangi risiko penularan TB.

Meski demikian, Prof. Erlina menegaskan anggapan bahwa TB hanya menyerang masyarakat yang tinggal di lingkungan kumuh atau miskin merupakan stigma yang tidak sepenuhnya benar.

Menurutnya, siapa pun dapat terkena TB, termasuk orang dengan kondisi ekonomi baik yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes.

"TB itu tidak selalu dikaitkan dengan kemiskinan atau tempat yang kotor. Walaupun itu ada benarnya, tetapi tidak absolut," pungkas Prof. Erlina.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore