ilustrasi gambar dari pinterest @yummy
JawaPos.com – Caroline Sacks merasa telah memahami bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap alergi susu yang dideritanya sejak kecil.
Meski beberapa kali mengalami reaksi alergi, kondisinya selalu dapat diatasi dengan antihistamin sehingga ia tidak pernah merasa perlu membawa EpiPen. Akan tetapi, sebuah kejadian saat makan malam sederhana bersama tunangannya mengubah semuanya.
Dikutip dai Variety, Caroline dan tunangannya memilih mencoba sebuah restoran baru setelah memastikan kepada staf bahwa hidangan yang mereka pesan benar-benar bebas produk susu.
Bahkan, pihak restoran telah mengonfirmasi kepada koki dan kembali meyakinkan pasangan tersebut saat makanan disajikan. Karena merasa aman, Caroline menikmati makan malamnya tanpa rasa khawatir.
Tak lama setelah meninggalkan restoran, ia mulai merasakan lidahnya gatal. Awalnya, Caroline mengira gejala itu hanya akibat kontaminasi ringan sehingga ia langsung mengonsumsi antihistamin.
Namun, kondisinya memburuk dengan cepat. Bibir dan lidahnya membengkak, ruam mulai muncul di dada, dan tenggorokannya terasa semakin menyempit hingga menyulitkan bernapas.
Setelah berkonsultasi dengan ayahnya yang berprofesi sebagai dokter, ia diminta segera menghubungi layanan darurat.
Petugas pemadam kebakaran yang tiba lebih dulu memberikan oksigen sambil menunggu ambulans datang.
Setibanya di lokasi, tim medis segera menyuntikkan EpiPen untuk pertama kalinya dalam hidup Caroline.
Obat tersebut berhasil menghentikan reaksi anafilaksis yang dialaminya sebelum ia dibawa ke rumah sakit untuk menjalani observasi lebih lanjut.
Keesokan harinya, Caroline dan tunangannya kembali ke restoran untuk menjelaskan insiden tersebut.
Menurutnya, pihak restoran sangat menyesal dan bahkan menawarkan untuk menanggung biaya ambulans.
Meski menghargai itikad baik tersebut, Caroline mengaku tidak berencana kembali makan di sana.
Pengalaman itu juga mendorongnya membagikan kisahnya melalui TikTok agar semakin banyak orang menyadari bahwa alergi makanan dapat berubah menjadi jauh lebih berbahaya, bahkan setelah bertahun-tahun hanya menimbulkan gejala ringan.
Kini Caroline selalu membawa EpiPen ke mana pun ia pergi. Ia berharap kisahnya dapat menjadi pengingat bagi para penyandang alergi makanan untuk rutin memeriksakan diri ke dokter spesialis alergi dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.
Menurut para dokter yang merawatnya, tingkat keparahan alergi dapat berubah seiring bertambahnya usia, sehingga riwayat reaksi ringan di masa lalu bukan jaminan bahwa reaksi berikutnya akan tetap ringan.