Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Juli 2026 | 00.54 WIB

Komunikasi Dokter Belum Optimal, Pasien Jantung Pilih Second Opinion ke Luar Negeri

Ilustrasi: Penyakit kardiovaskular menjadi penyakit paling membunuh di dunia. (Today's RDH). - Image

Ilustrasi: Penyakit kardiovaskular menjadi penyakit paling membunuh di dunia. (Today's RDH).

JawaPos.com - Nanik Sudaryati Deyang menyatakan mundur sebagai kepala Badan Gizi Nasional (BGN) karena ingin berobat jantung ke luar negeri. Alasannya untuk mencari  second opinion.

Alasan itu menurut Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP(K) yang perlu direnungkan oleh stakeholder penanganan penyakit jantung di Indonesia. 

Menurut dia, pilihan pasien mencari second opinion karena tidak yakin dengan kondisi kesehatan mereka. Namun, lebih penting perlu ditelisik lagi, pilihan second opinion diduga faktor nonmedis yang membuat sebagian pasien memilih berobat ke luar negeri, salah satunya komunikasi antara dokter dan pasien yang terkadang belum berjalan optimal.

"Kadang cara berkomunikasi sejawat-sejawat kami mungkin kurang komunikatif. Selain itu, masih ada image di masyarakat bahwa kalau di luar negeri akan lebih advanced atau lebih baik," kata Susetyo kepada wartawan, Kamis (23/7).

Dokter Susetyo menerangkan, pasien yang mencari second opinion umumnya ingin memastikan kembali diagnosis yang diterima. Namun, tidak sedikit pula yang sebenarnya masih berada pada fase penolakan (denial) sehingga berharap mendapatkan hasil yang berbeda.

"Umumnya masyarakat melakukan second opinion untuk mencari kebenaran. Tetapi sebenarnya banyak yang mencari pembenaran karena ketika divonis penyakitnya berat, acceptance-nya belum siap sehingga masih denial," sambungnya.

Padahal masyarakat tidak perlu meragukan kualitas layanan jantung di Indonesia. Sebab, fasilitas kesehatan, peralatan medis, hingga kemampuan dokter spesialis jantung sudah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

"Saya rasa fasilitas sarana prasarana untuk jantung dan pembuluh darah di Indonesia sudah cukup mumpuni, sudah sama dengan di luar negeri," tegasnya.

Selain fasilitas, tata laksana penyakit jantung di Indonesia juga dinilai tidak kalah. Menurut dia, obat-obatan modern yang digunakan di luar negeri juga telah tersedia di Indonesia. Begitu pula berbagai alat kesehatan berstandar internasional.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore