
Ilustrasi nikotin yang ada pada produk tembakau seperti rokok. (Sumber foto: podsalt)
JawaPos.com - Nikotin selama ini identik dengan rokok dan sifatnya yang adiktif. Namun, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa senyawa ini juga sedang dikaji karena berpotensi melindungi sel-sel otak, meningkatkan fungsi kognitif, hingga membantu penelitian terapi penyakit neurodegeneratif seperti Parkinson dan Alzheimer.
Meski demikian, para ahli menegaskan temuan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran untuk merokok atau menggunakan produk nikotin bagi orang yang tidak menggunakannya. Kajian mengenai nikotin lebih banyak berfokus pada potensi terapeutiknya dalam dunia medis serta pengembangan terapi berbasis nikotin yang tidak melibatkan pembakaran tembakau.
Pendekatan ini juga menjadi bagian dari diskusi mengenai strategi tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau bagi perokok dewasa. Assistant Clinical Professor University of Colorado School of Medicine Mitchell B. Liester mengatakan, nikotin merupakan senyawa yang memiliki potensi terapeutik besar meski selama ini lebih dikenal karena sifat adiktifnya.
Baca Juga:Benarkah MSG Berbahaya? Ini Fakta, Mitos, dan Cara Menggunakannya agar Masakan Tetap Sehat
"Nikotin, senyawa yang membuat tembakau bersifat adiktif, juga memiliki potensi terapeutik yang sangat besar sebagai pengobatan untuk gangguan neurologis dan kognitif," kata Mitchell dalam publikasinya di bidang neuroscience, dikutip Rabu (1/7).
Mitchell menjelaskan, nikotin bekerja dengan mengikat reseptor asetilkolin nikotinik di otak. Reseptor tersebut berperan dalam berbagai fungsi penting, mulai dari proses belajar, daya ingat, perhatian, hingga perlindungan terhadap sel saraf.
Aktivasi reseptor tersebut memicu berbagai respons biologis yang membantu neuron tetap hidup dan berfungsi optimal. Proses ini juga merangsang pembentukan protein pelindung yang membantu sel-sel otak bertahan saat mengalami tekanan maupun kerusakan.
Menurut Mitchell, salah satu hasil penelitian yang paling menarik berkaitan dengan penyakit Parkinson. "Salah satu temuan yang paling menarik adalah potensi nikotin dalam penelitian penyakit Parkinson. Berbagai studi menunjukkan bahwa nikotin dapat melindungi neuron dopaminergik, yakni sel-sel otak yang mengalami kerusakan pada penderita Parkinson," lanjut dia.
Selain itu, nikotin diketahui memiliki efek antiinflamasi pada sistem saraf. Senyawa ini mampu mengaktifkan jalur antiinflamasi kolinergik yang membantu menekan produksi molekul pemicu peradangan sekaligus mempertahankan sinyal antiinflamasi di otak.
"Kemampuan ganda sebagai pelindung saraf dan anti-inflamasi tersebut membuat nikotin dinilai memiliki potensi untuk berbagai penyakit neurodegeneratif yang ditandai oleh kematian sel saraf dan peradangan kronis," tambah Mitchell.

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Spanyol vs Austria: Bursa Taruhan Jagokan La Roja, Opta Klaim Peluang Menang 70,6 Persen
Kemenhub Ungkap Kronologi Putus Kontak Pesawat PK-RCY di Balinggama Papua, Pilot Dilaporkan Meninggal Dunia
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
