
Ilustrasi rokok elektrik vs rokok konvensional. (EDGE Vaping)
JawaPos.com–Wacana pelarangan total rokok elektronik dinilai berpotensi besar merugikan bagi perokok dewasa karena menghambat upaya pengurangan dampak kesehatan akibat kebiasaan merokok. Berbagai kajian ilmiah, baik yang dilakukan di dalam maupun luar negeri, menunjukkan bahwa rokok elektronik memiliki tingkat risiko kesehatan yang lebih rendah. Keberadaannya menjadi opsi yang realistis bagi perokok dewasa.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Profesor Amaliya mengatakan, rokok elektronik merupakan bagian dari strategi harm reduction (pengurangan risiko), yang dimaksudkan untuk mengurangi dampak negatif dari kebiasaan merokok terhadap kesehatan. Dia mengibaratkan pendekatan ini dengan praktik pengurangan risiko dalam kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan helm saat berkendara motor atau sabuk pengaman ketika mengemudi mobil.
”Produk tembakau alternatif direkomendasikan sebagai solusi tambahan bagi perokok dewasa yang tidak mau atau tidak mampu berhenti total, meskipun standar keberhasilan tertinggi tetaplah berhenti merokok sepenuhnya,” kata Amaliya melalui keterangan pers, Rabu (4/3).
Baca Juga:8 Tips Olahraga Saat Ramadhan agar Tidak Dehidrasi, Jaga Berat Badan Ideal Selama Bulan Puasa
Senada dengan Amaliya, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo) Paido Siahaan menekankan tujuan utama penggunaan rokok elektronik adalah sebagai bagian dari strategi tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau. Rokok elektronik diposisikan sebagai alat bantu peralihan bagi perokok dewasa untuk beralih dari rokok.
”Jadi, tujuan utamanya adalah kesehatan masyarakat dan perbaikan kualitas hidup perokok, bukan untuk mabuk-mabukan atau penggunaan zat psikotropika,” ucap Paido Siahaan.
Sebagai contoh, Inggris menjadi salah satu negara yang mendukung pemanfaatan rokok elektronik untuk menurunkan prevalensi merokok. Dukungan Inggris terhadap penggunaan produk tersebut berdasar hasil riset dari Public Health England (PHE) atau UK Health Security Agency telah mempublikasikan hasil kajian berjudul Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products.
Hasilnya, rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan mampu mengurangi paparan risiko hingga 90-95 persen lebih rendah daripada rokok. Dengan fakta itu, PHE menyatakan produk tembakau alternatif dapat membantu lebih banyak perokok beralih dari kebiasaannya.
Berlandaskan riset tersebut, Inggris menginisiasi program Swap to Stop pada 2023, yang menyediakan vape gratis bagi satu juta perokok sebagai bagian dari strategi kesehatan nasional. Berkat pemanfaatan vape, menurut laporan Office for National Statistics, proporsi perokok di Inggris pada 2024 adalah 10,6 persen atau setara 5,3 juta orang. Angka tersebut turun jika dibandingkan pada 2023 yang sekitar 11,9 persen atau 6 juta orang.
Sementara itu, hasil temuan peneliti-peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa rokok elektronik memiliki jejak toksikan yang relatif lebih kecil dibandingkan rokok. Sebab, tidak ada proses pembakaran yang menghasilkan TAR dan mengindikasikan potensi penurunan risiko kesehatan hingga 80-90 persen. BRIN menyimpulkan perlu adanya regulasi berbasis sains bagi rokok elektronik.
Terkait maraknya kasus penyalahgunaan untuk narkoba, Paido mengatakan, situasi tersebut telah mengaburkan fungsi utama dan menciptakan distorsi informasi di ruang publik terhadap vape. Kondisi ini dinilai dapat menghambat misi kesehatan masyarakat dan mendorong perokok dewasa untuk kembali merokok. Akibatnya, prevalensi merokok dikhawatirkan justru kembali meningkat.
Atas dasar itu, Paido menegaskan, mendukung penuh langkah aparat kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam memberantas peredaran narkoba hingga ke akarnya tanpa mematikan industri legal dan hak konsumen.
”Kami berharap penindakan dilakukan secara presisi dengan menindak tegas produsen dan pengedar cairan narkoba tersebut, bukan mengkriminalisasi alat rokok elektronik atau vape store legal yang tidak terlibat,” ucap Paido.
