
Ilustrasi bayi mengalami hidung tersumbat.
JawaPos.com - Regurgitasi atau gumoh pada bayi kerap membuat orang tua cemas dan sering dianggap sebagai kondisi berbahaya. Padahal, secara medis, regurgitasi maupun Gastroesophageal Reflux (GER) merupakan proses fisiologis yang lazim dialami bayi, terutama pada masa awal kehidupan.
Hal ini turut dibahas pada acara diskusi “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” yang diselenggarakan RS Premier Bintaro di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta pada Rabu (4/2).
Data klinis yang disampaikan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia 3 hingga 4 bulan. Kondisi ini umumnya akan berkurang seiring pertambahan usia dan biasanya menghilang saat bayi menginjak usia satu tahun. Bayi dengan kondisi ini dikenal sebagai happy spitter, yakni tetap aktif, menyusu dengan baik, dan mengalami pertumbuhan yang normal meskipun sering gumoh.
Di sisi lain, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi yang berbeda dan jauh lebih jarang ditemukan, dengan angka kejadian berkisar antara 3 hingga 8 persen. GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan secara berulang atau dalam durasi yang lama, sehingga berpotensi menimbulkan peradangan pada esofagus serta komplikasi lain seperti gangguan makan, gagal tumbuh, anemia, regurgitasi berdarah, hingga penurunan kualitas hidup anak.
dr. Badriul Hegar, Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, menyoroti bahwa tantangan utama dalam praktik klinis adalah membedakan antara regurgitasi fisiologis dan GERD.
“Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang. GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” jelas Badriul Hegar.
Badriul sendiri dikenal sebagai salah satu pakar terkemuka di Indonesia di bidang gastroenterologi dan hepatologi anak, dengan pengalaman panjang dalam pelayanan klinis, pendidikan, dan riset, serta aktif menjadi pembicara dalam berbagai forum ilmiah nasional maupun internasional.
Ditekankan pula bahwa gumoh berlebihan, bayi tampak rewel, atau menangis berkepanjangan tidak serta-merta menunjukkan GERD. Gejala tersebut juga dapat dijumpai pada bayi yang sehat. Oleh karena itu, diperlukan penilaian medis yang cermat untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, termasuk alergi protein susu sapi, sebelum menetapkan diagnosis GERD.
Penanganan awal regurgitasi dan GER pada bayi umumnya dilakukan tanpa obat. Langkah yang dianjurkan meliputi edukasi kepada orang tua, tetap melanjutkan pemberian ASI, menghindari pemberian makan berlebihan, pengaturan posisi bayi, serta penggunaan susu formula yang telah dipadatkan bila diperlukan. Terapi farmakologis tidak menjadi pilihan utama dan hanya diberikan pada kasus GERD yang telah terkonfirmasi secara klinis.
Sementara itu, dr. Relia Sari, Chief Executive Officer (CEO) RS Premier Bintaro menegaskan pentingnya edukasi kesehatan anak yang didasarkan pada bukti ilmiah. Menurutnya, peran media sangat strategis dalam menyebarluaskan informasi kesehatan yang benar agar orang tua tidak salah memahami kondisi yang dialami anak.

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
