
Ilustrasi usus kotor/ Sumber: freepik.com/diana.grytsku
JawaPos.com - Gejala penyakit radang usus alias Inflammatory Bowel Disease (IBD) kerap tampak seperti masalah pencernaan ringan, tetapi para ahli mengingatkan bahwa kondisi ini bisa jauh lebih serius bila diabaikan.
Banyak pasien baru tersadar setelah gejala memburuk, menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan sejak keluhan awal muncul. IBD sendiri merupakan penyakit radang usus kronis yang memicu peradangan berkepanjangan pada saluran cerna.
Dua bentuk utamanya adalah Kolitis Ulseratif dan Penyakit Crohn. Kolitis Ulseratif hanya menyerang usus besar dan rektum dengan peradangan terbatas pada lapisan mukosa, sementara Penyakit Crohn dapat muncul di mana saja sepanjang saluran cerna dengan pola peradangan yang lebih dalam dan tidak merata.
Gejala yang sering muncul meliputi diare, kram dan nyeri perut, penurunan berat badan tanpa sebab, demam, mudah lelah, hingga BAB berdarah. Karena bersifat progresif, deteksi sejak dini sangat krusial untuk mencegah komplikasi berat.
Ketua YGI, Prof. dr. H. Abdul Aziz Rani, SpPD, K-GEH, menegaskan bahwa rendahnya literasi publik mengenai IBD membuat banyak pasien meremehkan tanda-tandanya.
“Gejala IBD sering tampak seperti gangguan pencernaan biasa sehingga pasien datang saat kondisinya sudah parah,” ujarnya dalam acara bertajuk “Kenali IBD (Inflammatory Bowel Disease): Penyakit Radang Usus yang Perlu Diperhatikan” yang digelar Yayasan Gastroenterologi Indonesia (YGI) bersama Kementerian Kesehatan RI dan PT Takeda Indonesia, Selasa (9/12).
YGI, kata Prof Aziz, berupaya menjadi jembatan informasi yang dapat diandalkan sekaligus memastikan pasien mendapatkan dukungan dan akses perawatan yang tepat. Ia juga mengapresiasi kolaborasi Kemenkes dan Takeda Indonesia dalam memperluas edukasi masyarakat.
Sementara itu, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menambahkan bahwa tren IBD di Indonesia menunjukkan peningkatan seiring perubahan gaya hidup.
“Studi regional menunjukkan insidens IBD mencapai 0,7–1 per 100.000 penduduk per tahun. Angka ini cukup untuk menjadi peringatan bahwa IBD perlu perhatian serius,” katanya.
Pemerintah, lanjutnya, terus memperkuat layanan diagnosis, meningkatkan akses perawatan, serta menyediakan informasi akurat bagi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengurangi stigma dan memperluas pemahaman publik.
Penegasan serupa disampaikan Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD, K-GEH, FACP, FACG. Ia mengingatkan bahwa banyak pasien menunda pemeriksaan karena gejalanya sangat mirip keluhan pencernaan umum. Padahal pemeriksaan mulai dari riwayat medis, pemeriksaan fisik, laboratorium, endoskopi, biopsi, hingga pemindaian seperti CT scan dan MRI dapat membantu mendeteksi IBD lebih awal.
Saat ini, berbagai terapi tersedia, termasuk obat simptomatik hingga terapi biologis.
“Pengendalian peradangan yang tepat dan kepatuhan terhadap terapi sangat menentukan kualitas hidup pasien,” ungkapnya.
IBD tidak hanya menimbulkan gangguan fisik, tetapi juga berdampak besar pada aktivitas harian. Pasien kerap menghadapi pembatasan diet, perubahan gaya hidup, kebutuhan untuk selalu dekat dengan toilet, hingga gangguan pekerjaan, sekolah, aktivitas sosial, serta kesehatan mental.
Pejuang IBD, Steven Tafianoto Wong, berbagi kisah bahwa gejala awal yang ia kira hanya gangguan pencernaan ringan akhirnya berubah menjadi keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Saat didiagnosis, ia harus menata ulang pola makan, ritme kerja, serta gaya hidupnya. Meski tidak mudah, ia menegaskan bahwa pasien IBD tetap bisa hidup produktif dengan disiplin mengikuti anjuran medis dan rajin mencari informasi yang benar.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
