Ilustrasi: Gangguan aritmia jantung, tua muda bisa kena disebabkan oleh gaya hidup nggak sehat. (CVRTI - The University of Utah)
JawaPos.com - Kampanye Pulse Day disemarakan oleh Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) untuk mengingatkan bahwa satu dari tiga orang berisiko mengalami aritmia jantung signifikan. Melalui kampanye ini, masyarakat didorong untuk rutin memeriksa denyut nadi, yang dapat dilakukan dengan menempatkan jari di pergelangan tangan atau leher.
Serta, menghitung detak selama 30 detik, lalu mengalikannya dua untuk mendapatkan denyut per menit. Rentang normal denyut jantung sendiri adalah 60–100 detak per menit.
Pulse Day sendiri menyoroti peningkatan kesadaran terhadap Atrial Fibrillation (AF), salah satu aritmia paling umum yang membawa dampak besar pada kesehatan global. Di Asia Pasifik, kasus AF terus meningkat, sementara ketimpangan akses terhadap layanan aritmia masih terjadi meski teknologi kesehatan semakin maju. AF meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan gagal jantung hingga tiga kali lipat, namun banyak kasus belum terdiagnosis.
Beban penyakit kardiovaskular dan aritmia di Asia-Pasifik juga terus bertambah, diperparah oleh kesenjangan akses terhadap layanan penyelamatan jiwa seperti kateter ablasi dan implantable cardioverter-defibrillator (ICD).
Data APHRS White Book 2023 menunjukkan bahwa tindakan tersebut di beberapa negara masih jauh lebih sedikit dibandingkan negara maju. Hal ini menandakan perlunya strategi bersama dan kebijakan berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan tersebut.
APHRS sendiri selama ini telah berupaya meningkatkan kapasitas layanan aritmia melalui pelatihan regional, kerjasama riset, dan program fellowship. Meski telah terlihat kemajuan, pemerataan layanan hanya dapat dicapai melalui reformasi kebijakan jangka panjang, peningkatan jumlah tenaga medis terlatih, serta perluasan akses terhadap teknologi penanganan aritmia yang lebih modern.
“APHRS menegaskan bahwa pemeriksaan profesional tetap paling penting. Dalam semangat kampanye Pulse Day, APHRS terus mengingatkan bahwa memeriksa denyut nadi secara manual adalah langkah sederhana namun sangat efektif untuk mendeteksi kelainan irama jantung sejak dini,” tegas dr. Dicky Armein Hanafy, Head of Pulse Day Task Force, Chairperson of Public Affairs Committee APHRS dalam keterangannya.
Selain itu, kemajuan teknologi turut menghadirkan peluang baru dalam deteksi aritmia. Berbagai perangkat wearable dan aplikasi kesehatan dengan fitur pemantauan denyut nadi kini semakin populer di kalangan pengguna.
Teknologi tersebut dapat membantu mengidentifikasi gangguan irama jantung lebih awal dan mendorong seseorang untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis. Perangkat ini juga bermanfaat sebagai alat pendukung pemantauan detak jantung saat berolahraga, termasuk aktivitas lari.
Dalam kesempatan ini pula, APHRS secara resmi meluncurkan Yokohama Fun Run 2025 sebagai pembuka rangkaian kegiatan Road to Pulse Day 2026. Kegiatan ini merupakan simbol dimulainya kampanye global untuk meningkatkan kesadaran terhadap gangguan irama jantung atau Aritmia dan mengajak masyarakat menjaga kesehatan jantung melalui gaya hidup aktif dan deteksi dini.
Yokohama Fun Run 2025 sendiri menjadi bagian dari rangkaian APHRS Annual Scientific Sessions yang akan diadakan sepanjang 12-15 November 2025. Kegiatan ini melibatkan partisipasi massal, mempromosikan gaya hidup sehat, dan menunjukkan semangat kebersamaan masyarakat.
Sebanyak 120 peserta dari APHRS Annual Scientific Sessions ikut serta, diantaranya adalah para penggiat kesehatan irama jantung dari berbagai belahan dunia. Peserta terdiri atas anggota APHRS dan JHRS, serta delegasi dari EHRA, HRS, dan LAHRS.
dr. Dicky menjelaskan bahwa kegiatan ini menegaskan pesan bahwa aktivitas fisik, pemeriksaan denyut nadi, dan pencegahan penyakit jantung harus berjalan beriringan. Selain kegiatan fun run, APHRS juga akan menyelenggarakan pertemuan ilmiah tahunan serta berbagai simposium terkait.
“Hal ini mencerminkan komitmen APHRS untuk terus memajukan penanganan aritmia melalui kolaborasi ilmiah dan pertukaran pengetahuan di antara para anggotanya, serta organisasi nasional dan internasional lainnya. Sesi ilmiah ini menampilkan pemaparan ilmiah interaktif, fokus pada penelitian terbaru dalam manajemen aritmia, serta pelatihan keterampilan praktis melalui APHRS Learning Village,” kata Dicky.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
