
Jakarta Varices Clinic merayakan ulang tahun ke-2 dengan meluncurkan buku Phlebology: Diagnosis dan Terapi Varises. (Istimewa)
JawaPos.com-Jakarta Varices Clinic (JVC) menandai hari jadinya yang kedua dengan meluncurkan buku Phlebology: Diagnosis dan Terapi Varises sekaligus menyelenggarakan Phlebology Course 2025 sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi medis terhadap penyakit vena kronis di Indonesia.
Founder Jakarta Varices Clinic, Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), menjelaskan bahwa buku tersebut menjadi referensi komprehensif bagi tenaga medis di bidang phlebology. “Buku ini kami hadirkan sebagai upaya memperluas wawasan tenaga medis di bidang penyakit varises. Varises bukan sekadar masalah kosmetik, melainkan penyakit pembuluh darah yang perlu dikenali dan ditangani sedini mungkin,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Nana Novia Jayadi, Sp.DVE menambahkan bahwa teknologi penanganan varises terus berkembang, termasuk inovasi Cryolaser Sclerotherapy. “Teknologi ini merupakan inovasi terapi varises yang nyaman dan aman, kini berkembang di Eropa dan telah hadir di Indonesia,” katanya.
Selama dua tahun beroperasi, JVC tercatat telah menangani sekitar 4.000 pasien dengan metode terapi varises minimal invasif berbasis standar Eropa. Klinik ini mengintegrasikan sejumlah teknologi penanganan varises dalam satu kesatuan layanan yang meliputi Cryolaser Sclerotherapy, US-IR Guided Sclerotherapy, Endovenous Ablation, dan Terapi Kompresi.
Penanganan varises disebut memiliki keterkaitan dengan kesehatan jantung dan sistem pembuluh darah. Berbagai penelitian menunjukkan pasien dengan varises berisiko lebih tinggi mengalami gangguan aliran darah dan pembekuan darah, bahkan dapat menjadi prediktor penyakit jantung.
Dengan latar belakangnya sebagai spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Vito mengembangkan pendekatan “Wellness Phlebology”, yaitu konsep integratif yang menempatkan varises sebagai bagian dari sistem kardiovaskular secara utuh.
Sejak berdiri, Jakarta Varices Clinic dikenal sebagai klinik spesialis varises terakreditasi nasional yang menggabungkan teknologi mutakhir, keahlian multidisiplin, dan pendekatan personal terhadap pasien.
Metode tanpa operasi yang diterapkan memungkinkan pasien pulih lebih cepat dan kembali beraktivitas pada hari yang sama tanpa perawatan rawat inap. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
