Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 November 2025 | 02.00 WIB

5 Pemicu Insomnia yang Harus Diwaspadai, Apa Saja?

Ilustrasi seorang perempuan mengalami insomnia. (Freepik) - Image

Ilustrasi seorang perempuan mengalami insomnia. (Freepik)

Hal-hal tersebut membuat otak tetap aktif dan kesulitan untuk beralih ke mode relaksasi. Meskipun tubuh sudah merasa lelah, stimulasi dari cahaya layar maupun aktivitas yang memicu adrenalin dapat menunda proses terjadinya rasa kantuk.

Konsumsi Kafein dan Stimulan

Mengonsumsi minuman berkafein seperti kopi, teh, cokelat, minuman energi, atau bahkan soda, terutama pada waktu sore hingga malam hari, dapat meningkatkan aktivitas sistem pada saraf.

Kafein bekerja dengan menghambat adenosin yang merupakan zat kimia dalam tubuh yang bertugas memberikan sinyal rasa kantuk. Hal ini menyebabkan tubuh tetap berada dalam kondisi terjaga meski di jam istirahat sekalipun.

Kondisi ini sering diperparah ketika seseorang mengonsumsi kafein untuk mengatasi rasa lelah akibat kurang tidur sebelumnya.

Kebiasaan ini menciptakan siklus yang tidak sehat, di mana tubuh terus bergantung pada stimulan untuk tetap terjaga, namun pada akhirnya kesulitan untuk tidur secara alami.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatnya kecemasan, gangguan pencernaan, hingga rasa lelah yang berkepanjangan.

Gangguan Psikologis Tertentu

Kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD) dapat memengaruhi cara kerja otak dalam mengatur emosi dan respons tubuh terhadap stres.

Ketika seseorang mengalami gangguan psikologis tertentu, sistem saraf menjadi lebih sensitif, sehingga dapat menyebabkan tubuh tetap berada dalam keadaan tegang meskipun waktunya untuk beristirahat.

Perubahan suasana hati yang tidak stabil, rasa cemas berlebihan, atau pikiran yang terus berputar juga dapat menghambat tubuh untuk beristirahat.

Kondisi ini dapat mengganggu, bahkan memperburuk kualitas tidur. Hal ini disebabkan karena meski seseorang akhirnya dapat tertidur, tidur tersebut biasanya tidak nyenyak dan mudah terdistraksi. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan istirahat yang optimal dan tetap merasa lelah ketika bangun.

Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menemui dukungan profesional, seperti psikolog atau psikiater, supaya dapat membantu menemukan strategi yang tepat agar tubuh dan pikiran kembali mampu beristirahat dengan lebih baik.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore