Ilustrasi Penderita Eksim Atopik. (rsbhayangkarabanjarmasin)
JawaPos.com - Mengapa kulit penderita eksim terasa sangat kering dan mudah mengalami iritasi? Jawabannya ada pada penguapan air pada kulit atau disebut transepidermal water loss (TEWL) yang meningkat.
Dilansir JawaPos.com dari web artikel ilmiah populer UNAIR, penelitian dilakukan oleh Damayanti, Sylvia Anggraeni, Menul Ayu Umborowati, Asmahan Farah Adiba, dan Cita Rosita Sigit Prakoeswa dari Universitas Airlangga - RSUD Dr Soetomo, Surabaya membuktikan bahwa kulit penderita dermatitis atopik (eksim) tidak mampu menahan penguapan air dengan baik.
Dermatitis atopik (eksim) adalah penyakit keradangan kulit dengan gejala ruam merah yang gatal, bersifat menahun dan kambuh-kabuhan, yang seringkali dapat mengganggu kualitas hidup penderita. Penyakit ini tidak hanya menyerang anak, tetapi juga dapat dialami oleh orang dewasa.
Gangguan utama ada pada skin barrier (lapisan sawar/pelindung kulit) yang rusak sehingga kulit menjadi kering, mudah iritasi, dan meningkatkan risiko untuk mengalami infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus (jenis bakteri yang seringkali memperparah eksim).
Mereka melibatkan 74 orang dewasa, terdiri dari 37 penderita dermatitis atopik (eksim) dan 37 orang tanpa eksim. Para peneliti mengukur TEWL menggunakan alat GPSkin Barrier (alat untuk mengukur laju penguapan air dari kulit) di kulit bagian dalam lengan kiri seluas 5x4 sentimeter.
Hasilnya mencolok. Rata-rata TEWL pada kulit sehat hanya 5,61 gram per meter persegi per jam. Pada penderita eksim, angkanya melonjak menjadi 18,07 gram per meter persegi per jam.
‘’Kulit penderita eksim mengalami penguapan air dari kulit hampir tiga kali lebih banyak. Angka tertinggi pada penderita eksim bahkan mencapai 30,70, sedangkan kulit sehat hanya maksimal 14,50,’’ hasil penelitian itu dikutip JawaPos.com.
Peneliti menyimpulkan bahwa tingginya TEWL menunjukkan penderita eksim mengalami kerusakan skin barrier (lapisan sawar/pelindung kulit). Lapisan ini seharusnya menjaga agar air tidak menguap berlebihan dan melindungi tubuh terhadap paparan dari luar.
“Saat pelindung kulit rusak, air keluar terlalu cepat dan kulit menjadi sangat kering. Nilai TEWL yang tinggi juga menandakan tingkat keparahan eksim,” tulis laporan itu.
Temuan ini penting untuk dunia medis di Indonesia. Sebelumnya, belum ada data TEWL pada orang dewasa sehat maupun penderita eksim di Indonesia. Peneliti menegaskan bahwa TEWL bisa digunakan dokter sebagai alat ukur objektif untuk menilai kondisi kulit penderita dan menentukan jenis perawatannya. Semakin tinggi TEWL, semakin buruk kondisi lapisan sawar/pelindung kulit.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa TEWL dapat dipengaruhi oleh usia, lokasi kulit yang diukur, dan lingkungan. Namun dalam penelitian ini, semua pengukuran dilakukan di tempat dan kondisi yang sama untuk menjaga hasil tetap akurat.
Penelitian ini menjadi dasar penting untuk riset lanjutan dan membantu penanganan eksim jadi lebih tepat dan terukur.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022