Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Oktober 2025 | 05.47 WIB

Mengenal Pembesaran Prostat dan Cara Penanganannya Tanpa Operasi Besar

ilustrasi saluran kencing bermasalah. Sumber foto: Freepik - Image

ilustrasi saluran kencing bermasalah. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Pembesaran prostat atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dialami pria lanjut usia. Kondisi ini ditandai dengan bertambahnya jumlah sel pada prostat, sehingga organ membesar dan menekan saluran kemih. Meski sering disalahartikan sebagai kanker prostat, BPH sejatinya bersifat jinak dan tidak ganas.

Menurut Dokter Spesialis Urologi RSCM Kencana dr. Chaidir Arif Mochtar, Sp.U (K) Ph.D, prostat merupakan kelenjar kecil berukuran sebesar buah kenari yang terletak di bawah kandung kemih dengan uretra melewati bagian tengahnya.

“Fungsi utama prostat adalah mensekresikan cairan yang melindungi sperma dan menyediakan nutrisi agar sperma dapat bertahan hidup. Masalah muncul ketika terjadi penambahan jumlah sel, sehingga prostat membesar dan menekan saluran kencing. Inilah yang disebut BPH,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (30/9).

Gejala BPH cukup mengganggu, mulai dari sering buang air kecil terutama di malam hari, pancaran urine melemah, hingga rasa tidak tuntas setelah berkemih.

“Keluhan ini bukan hanya menurunkan kualitas hidup pasien, tapi juga dapat mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari,” jelas dr. Chaidir. 

Data menunjukkan, prevalensi BPH cukup tinggi. Secara global, lebih dari 50% pria usia di atas 60 tahun mengalami gejala BPH, dan angka ini bisa mencapai 80% pada usia di atas 80 tahun. Di Indonesia, laporan BPJS mencatat hampir 100.000 kasus BPH dalam lima tahun terakhir di Jawa Barat, dengan mayoritas pasien berusia di atas 60 tahun.

Selama ini, terapi BPH umumnya terbatas pada penggunaan obat jangka panjang atau operasi besar seperti TURP (Transurethral Resection of the Prostate). Keduanya efektif, namun memiliki risiko efek samping, termasuk gangguan fungsi seksual dan komplikasi pascaoperasi.

Untuk menjawab keterbatasan itu, RSCM meluncurkan Rezum Water Vapor Therapy Training Center pertama di Indonesia pada 30 September 2025. Teknologi ini menawarkan solusi penanganan BPH tanpa operasi, dengan prosedur minimal invasif menggunakan uap air bersuhu tinggi untuk mengecilkan kelenjar prostat.

Ketua KSM Urologi RSCM, Prof. Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U(K), menyebut peluncuran pusat pelatihan ini sebagai langkah strategis.

“Peluncuran Rezum Training Center merupakan langkah penting bagi RSCM untuk menghadirkan inovasi layanan urologi modern. Selain untuk pasien, ini juga menjadi pusat pelatihan bagi dokter urologi di seluruh Indonesia,” tuturnya. 

dr. Chaidir juga menegaskan Rezum menjadi alternatif penanganan embesaran prostat yang lebih aman dan minim efek samping.

“Dengan hadirnya Rezum, kita punya pilihan terapi BPH yang lebih efektif dan minim invasif. Prosedur singkat, pemulihan cepat, dan efek samping terhadap fungsi seksual relatif minimal,” jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh Prof. dr. Agus Rizal A.H. Hamid, Sp.U(K), FICRS, Ph.D, yang menekankan pentingnya pusat pelatihan Rezum di RSCM.

“Dengan adanya Training Center, semakin banyak urolog dapat menjangkau pelatihan, sehingga manfaat Rezum makin luas dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Rezum telah mendapat persetujuan US FDA untuk volume prostat hingga 150 ml. Prosedur dilakukan tanpa insisi melalui sistoskopi, dengan perbaikan gejala mulai terlihat dalam tiga minggu dan hasil optimal tercapai dalam tiga bulan. Keunggulan lain adalah efek minimal terhadap fungsi seksual, termasuk ejakulasi, sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore