Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 September 2025 | 22.36 WIB

Tren Penemuan Obat Berbasis AI Meningkat Seiring FDA Mendorong Pengurangan Uji Coba pada Hewan

Ilustrasi ilmuwan mengembangkan obat menggunakan AI (Dok. Forbes) - Image

Ilustrasi ilmuwan mengembangkan obat menggunakan AI (Dok. Forbes)

JawaPos.com - Para pengembang obat meningkatkan adopsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk penemuan dan pengujian keamanan guna mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih murah.

Hal itu sejalan dengan dorongan Food and Drug Administration (FDA) untuk mengurangi uji coba pada hewan dalam waktu dekat.

Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, penggunaan AI dan pengurangan uji coba pada hewan dapat mengurangi waktu dan biaya setidaknya setengahnya, menurut 11 pakar berbeda dari berbagai perusahaan riset kontrak, perusahaan bioteknologi, dan perusahaan pialang.

Pembuat perangkat lunak pengembangan obat Certara (CERT.O), perusahaan bioteknologi seperti Schrodinger (SDGR.O), dan Recursion Pharmaceuticals (RXRX.O), telah menggunakan AI untuk memprediksi bagaimana obat eksperimental dapat diserap, didistribusikan, atau memicu efek samping toksik. 

"Kita sudah sampai pada titik di mana kita sebenarnya tidak perlu lagi melakukan itu (uji coba pada hewan)," kata Patrick Smith, presiden solusi pengembangan obat di Certara, yang bekerja sama dengan perusahaan yang mengembangkan obat penyakit menular seperti antibodi monoklonal untuk hepatitis B.

Recursion mengatakan platform penemuan obat berbasis AI-nya hanya membutuhkan waktu 18 bulan untuk membawa sebuah molekul ke tahap uji klinis sebagai kandidat obat kanker, jauh lebih cepat daripada rata-rata industri yang membutuhkan waktu 42 bulan.

Analis di TD Cowen dan Jefferies memperkirakan pendekatan berbasis AI ini akan memangkas biaya dan jangka waktu lebih dari setengahnya, dari perkiraan saat ini yang mencapai 15 tahun dan USD2 miliar yang dibutuhkan untuk memasarkan sebuah obat.

Pergeseran ini juga sejalan dengan visi FDA tentang pendekatan seperti teknologi berbasis AI, model sel manusia, dan model komputasional yang akan menjadi standar baru.

FDA berencana menjadikan studi pada hewan sebagai pengecualian untuk pengujian keamanan dan toksisitas pra-klinis dalam tiga hingga lima tahun.

Pendekatan baru ini pada akhirnya diharapkan juga akan menghasilkan harga obat yang lebih rendah, demikian pernyataan FDA dalam pernyataannya di bulan April yang menguraikan peta jalan bagi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada pengujian hewan, terutama untuk obat antibodi monoklonal.

Namun, para pakar industri mengatakan metode baru ini kemungkinan besar tidak akan sepenuhnya menggantikan pengujian hewan.

Berdasarkan persyaratan FDA saat ini untuk antibodi monoklonal, perusahaan melakukan penelitian pada hewan untuk menguji efek berbahaya suatu obat. 

Penelitian ini biasanya memakan waktu antara satu hingga enam bulan, dan rata-rata membutuhkan sekitar 144 primata non-manusia, dengan biaya masing-masing USD 50.000.

Pendekatan Baru

Charles River, salah satu kontraktor riset terbesar di dunia, merupakan salah satu andalan industri yang berinvestasi dalam AI dan apa yang disebut "metodologi pendekatan baru" atau New Approach Methodologies (NAM).

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore