Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Agustus 2025 | 22.14 WIB

Paranoia pada Skizofrenia: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Seseorang dengan penyakit mental tertentu (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Skizofrenia adalah gangguan kesehatan mental kronis yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan memahami kenyataan. Salah satu gejala yang dapat muncul adalah paranoia, yaitu keyakinan berlebihan bahwa orang lain sedang mengawasi, mengganggu, atau berusaha mencelakakan dirinya.

Dulu, istilah "paranoid schizophrenia" digunakan untuk menyebut salah satu subtipe skizofrenia. Namun sejak 2013, panduan medis internasional (DSM-5) tidak lagi mengklasifikasikan paranoia sebagai subtipe, melainkan sebagai gejala dari skizofrenia.

Tanda dan Gejala Skizofrenia

Gejala biasanya mulai muncul pada usia remaja akhir hingga dewasa muda (16–30 tahun). Skizofrenia dapat memengaruhi:  

  • Pola pikir dan cara memproses informasi
  • Persepsi dan perasaan
  • Pola tidur
  • Kemampuan berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain
  • Konsentrasi serta penyelesaian tugas sehari-hari

Selain itu, terdapat beberapa gejala yang umum terjadi, seperti:

  • Pikiran kacau atau sulit mengorganisasi informasi
  • Sulit berkonsentrasi dan mengingat hal baru
  • Menarik diri dari keluarga atau pergaulan
  • Perubahan emosi dan bahasa tubuh
  • Pola tidur terganggu
  • Halusinasi dan delusi

Apa Itu Paranoia?

Paranoia dalam skizofrenia bisa muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:

  • Merasa dicurigai, diawasi, atau dikhianati orang lain
  • Takut diikuti, diracuni, atau diserang
  • Perasaan cemas, bingung, atau mudah marah akibat keyakinan tersebut

Keyakinan ini terasa sangat nyata bagi penderita, meski tidak sesuai kenyataan. Akibatnya, rasa takut dan kecemasan bisa mengganggu hubungan sosial, pekerjaan, bahkan keselamatan diri.  

Dikutip dari Cleveland Clinic, banyak penderita skizofrenia mengalami anosognosia, yaitu ketidakmampuan mengenali bahwa dirinya sakit. 

Mereka benar-benar yakin bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, sehingga sering menolak pengobatan. Kondisi ini membuat perawatan menjadi lebih menantang.  

Belum ada penyebab tunggal yang pasti dalam memicu penyakit ini, tetapi para ahli menduga kombinasi faktor biologis, genetik, dan lingkungan. Beberapa faktor yang berperan antara lain:

  • Ketidakseimbangan zat kimia otak (neurotransmiter, seperti dopamin)
  • Gangguan perkembangan otak sejak dalam kandungan
  • Gangguan komunikasi antar bagian otak

Sayangnya, skizofrenia adalah penyakit seumur hidup yang belum bisa disembuhkan. Sebagian orang hanya mengalami satu kali episode dalam hidupnya, tetapi dokter menyebut kondisi ini sebagai remisi, bukan benar-benar sembuh. Pasalnya, gejala dapat muncul kembali sewaktu-waktu tanpa bisa diprediksi.  

Pengobatan yang konsisten sangat penting, bukan hanya untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga untuk menyelamatkan nyawa. Dukungan keluarga, akses layanan kesehatan mental, dan pemahaman masyarakat menjadi kunci dalam membantu penderita menjalani hidup yang lebih stabil.  

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore