Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Agustus 2025 | 21.58 WIB

Apakah Perempuan Membutuhkan Lebih Banyak Tidur daripada Laki-Laki? Begini Fakta Ilmiah dan Realitasnya

Perempuan yang sedang tertidur di siang hari (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Jika Anda sering menjelajahi konten kesehatan di TikTok atau Instagram, mungkin pernah mendengar klaim bahwa perempuan membutuhkan tidur satu hingga dua jam lebih lama dibandingkan laki-laki. Namun, apa kata penelitian sebenarnya?

Melansir dari Medical Xpress, hasil studi dengan metode objektif umumnya menunjukkan bahwa perempuan tidur sekitar 20 menit lebih lama dibandingkan laki-laki.

Sebuah studi global terhadap hampir 70.000 dengan wearable sleep tracker menemukan perbedaan kecil tapi konsisten, misalnya pada kelompok usia 40-44 tahun, perempuan tidur 23-29 menit lebih lama.

Studi lain menggunakan polysomnography menunjukkan perempuan tidur 19 menit lebih lama dan menghabiskan waktu lebih banyak di fase tidur dalam (23% dari total tidur, dibandingkan 14% pada laki-laki). Uniknya, kualitas tidur menurun seiring usia hanya terlihat pada laki-laki, bukan perempuan.  

Meski begitu, kebutuhan tidur tiap orang sangat bervariasi. Rata-rata perempuan memang tidur sedikit lebih lama, tapi tidak bisa digeneralisasi menjadi aturan baku, sama seperti tinggi badan yang tidak seragam pada semua orang.  

Walau data menunjukkan perempuan tidur lebih lama dan lebih dalam, laporan subjektif justru berbeda. Perempuan lebih sering mengaku kualitas tidurnya buruk dan 40% lebih berisiko didiagnosis insomnia dibanding laki-laki.

Mengapa ada kesenjangan ini? Karena banyak penelitian tidak mempertimbangkan faktor nyata seperti kesehatan mental, penggunaan obat-obatan, alkohol, serta fluktuasi hormon. Padahal, faktor-faktor ini sangat memengaruhi tidur dalam kehidupan sehari-hari.

Faktor Biologi

Gangguan tidur pada perempuan mulai meningkat sejak pubertas, lalu kembali naik saat kehamilan, pasca-melahirkan, dan perimenopause.  

Secara hormonal, perubahan kadar estrogen dan progesteron memengaruhi kualitas tidur. Misalnya, banyak perempuan melaporkan tidur terganggu pada fase pramenstruasi. Penurunan estrogen saat perimenopause juga sering dikaitkan dengan sulit tidur, terutama terbangun pukul 3 pagi.  

Dari segi kesehatan, kondisi seperti gangguan tiroid dan defisiensi zat besi lebih umum pada perempuan dan berkaitan erat dengan rasa lelah serta tidur tidak nyenyak.

Faktor Psikologi

Dikutip melalui jurnal penelitian The Lancet Psychiatry, perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, dan trauma, yang semuanya bisa memperburuk tidur. Pola pikir seperti kecenderungan khawatir dan overthinking juga lebih sering ditemukan pada perempuan.  

Selain itu, perempuan lebih banyak mengonsumsi antidepresan, yang juga berpengaruh pada tidur.  

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore