RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. (Dok. Jawa Pos)
JawaPos.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyayangkan fenomena banyaknya masyarakat yang berobat ke rumah sakit luar negeri. Saat ini, fasilitas kesehatan di Indonesia dianggap sudah mumpuni seperti halnya pengobatan di luar negeri.
Diketahui bahwa akibat fenomena banyaknya masyarakat yang berobat ke luar negeri ini, Indonesia mengalami kehilangan potensi devisa hingga Rp 150 triliun per tahun.
"Sangat disayangkan karena sebenarnya semua layanan dan diagnostiknya bisa dilakukan di RS kita," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, Siti Nadia Tarmidzi, saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (14/8).
Ia mengeklaim, banyaknya masyarakat yang berobat ke rumah sakit luar negeri bukan karena kekecewaan terhadap pelayanan kesehatan di dalam negeri
"Rasanya bukan masalah kualitas tetapi karena budaya sosial masyarakat yang mudah mempercayai informasi tetapi belum mencari informasi secara lengkap," ucapnya.
Meski belum banyak, ia juga menyebut bahwa beberapa turis justru memilih berobat ke rumah sakit dalam negeri.
Nadia memastikan bahwa saat ini pihaknya bersama rumah sakit-rumah sakit dalam negeri akan meningkatkan promosi agar untuk mengatasi fenomena berobat ke luar negeri tersebut.
"Kita terus memperbaiki layanan dan mempromosikan layanan yang dapat dilakukan dari RS di indonesia. Masifnya promosi juga menjadi salah satu faktor ketertarikan masyarakat selain ketidaktahuan. Adanya perluasan layanan terutama untuk kanker, jantung ginjal dan stroke menjadi salah satu upaya," beber perempuan kelahiran Palembang 31 Agustus 1972 itu.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi.
Saat ini, Kemenkes juga sudah mengembangkan layanan health tourism untuk menggaet pasien dari luar negeri agar dapat berobat ke dalam negeri.
"Jadi pemeriksaan kesehatan dengan paket wisata seperti layanan wellness," tutup Nadia.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Prof. Cita Rosita Sigit Prakoeswa mengakui bahwa beberapa tahun terakhir, tidak sedikit WNI yang memilih berobat ke rumah sakit atau pusat medis di luar negeri.
Menurutnya, ada tiga kendala yang dihadapi rumah sakit (RS) pemerintah dan perlu menjadi perhatian. Pertama, fasilitas canggih. Tidak bisa dipungkiri, teknologi mutakhir dibutuhkan untuk diagnosa hingga penanganan pasien.
"Dan, sayangnya kondisi ini memang masih minimal di rumah sakit-rumah sakit pemerintah. Masih sedikit RS Pemerintah yang mempunyai teknologi mutakhir," ujar Prof. Cita saat diwawancarai JawaPos.com, Kamis (14/8).

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
