
Merry Khristianti (kiri) mencoba area kemoterapi di Ciputra Comprehensive Cancer Center di Ciputra Hospital, (12/7). Area tersebut dilengkapi berbagai fasilitas untuk penanganan kanker.
JawaPos.com - Meningkatnya tren warga Indonesia berobat ke luar negeri, terutama ke negara tetangga, menjadi alarm bagi dunia kesehatan nasional. Meski fenomena ini tak selalu berarti pelayanan medis dalam negeri buruk, evaluasi tetap diperlukan.
Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PP PAPDI) Sukamto Koesnoe, mengatakan ada banyak faktor dari sekadar pelayanan, yang akhirnya membuat warga Indonesia memilih berobat ke luar negeri.
Mulai dari biaya yang lebih murah, antrean yang mengular, hingga jumlah pasien yang diobati dalam satu rumah sakit. "Itu saya kira one stop service, persoalan yang memang harus diselesaikan oleh manajemen rumah sakit," ujarnya kepada JawaPos.com, Rabu (13/8).
Namun begitu, ia mengaku tak merasa keberatan dengan banyaknya warga negara Indonesia (WNI) yang melancong ke luar negeri untuk berobat. Alasannya sederhana. Selama ini rumah sakit tak pernah 'sepi' pasien.
"Sebetulnya buat kami, kami kan masih kewalahan, (artinya) kita tidak kekurangan pasien. Jadi doa saya itu malah kalau ada ya Allah jangan banyak-banyak pasien, supaya kita bisa komunikasi lebih banyak (sehingga pelayanan menjadi maksimal)," imbuhnya.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia itu juga mengimbau agar WNI tak lagi lari ke RS luar negeri. Ia menganjurkan agar pemerintah perlu membuat regulasi yang menguntungkan, sehingga alat atau teknologi kesehatan lebih mudah dan murah didapatkan.
"Seperti contoh barang yang dianggap pajaknya terlalu tinggi, sehingga unit cost-nya menjadi lebih mahal. Kenapa kalau di Penang, misalnya di Malaysia, itu pemeriksaan laboratorium bisa lebih murah, dan seterusnya, ya kan berhubungan dengan itu," serunya.
Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PP PAPDI) Sukamto Koesnoe.
Senada, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur, Sutrisno, menegaskan, fenomena maraknya WNI berobat ke luar negeri tidak mencerminkan bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia buruk.
Pria berkumis ini menegaskan lingkungan kesehatan yang ia maksud adalah dari segi kelengkapan dan kecanggihan peralatan, fasilitas rumah sakit dalam negeri, sistem, hingga kesejahteraan para tenaga kesehatan.
"Kesejahteraan saya sebut terakhir, tetapi sebenarnya ini pangkal semua masalah. Itu kalau disamakan mirip mereka (RS luar negeri), saya tegas saja menjamin kualitas dokter-dokter di Indonesia tidak kalah," sambungnya saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (15/8).
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi ini menyoroti sistem BPJS Kesehatan di Indonesia. Ia mencontohkan, pasien kaya datang ke rumah sakit tipe A menggunakan BPJS. Ada pembatasan tindakan medis, sekalipun si pasien rutin membayar iuran setiap bulannya.
Akibatnya, banyak hal-hal yang secara keilmuan penting dilakukan, tidak bisa terlaksana karena plafon klaim BPJS. Sementara jika pasien datang ke Penang, Malaysia dan mengatakan "I will pay all from my pocket", maka rumah sakit tersebut memberikan pelayanan terbaik.
"Makanya itu tidak bisa dipandang hanya Indonesia ke luar negeri saja. Banyak sekali orang-orang Indonesia yang berobat ke Penang, ke Singapura, begitu uangnya habis, dia kembali ke Indonesia menggunakan BPJS. Coba Anda pikirkan, harus adil melihatnya," seru Sutrisno.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah membuat regulasi yang memungkinkan BPJS Kesehatan memberi peluang seluas-luasnya bagi rumah sakit dan fasilitas kesehatan melayani pasien di luar plafon. Dengan begitu, kualitas layanan dapat maksimal.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
