Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Agustus 2025 | 04.35 WIB

Jangan Abaikan! GERD Bisa Berujung Kanker, Dokter Ungkap Penyebabnya

Ilustrasi: Penyakit Gerd. (Gastro Health) - Image

Ilustrasi: Penyakit Gerd. (Gastro Health)

JawaPos.com - Penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) kerap dianggap sepele, padahal jika tidak ditangani dengan baik dapat memicu komplikasi serius, termasuk kanker kerongkongan.

Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia–RS Cipto Mangunkusumo, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, mengingatkan bahwa paparan asam lambung dengan pH sangat rendah yang terus-menerus pada dinding kerongkongan dapat menyebabkan luka kronis, penyempitan, perubahan sel menjadi prakanker, hingga berkembang menjadi kanker.

Prof. Ari menjelaskan, GERD bukan hanya merusak kerongkongan, tapi juga dapat mengiritasi saluran pernapasan dan rongga mulut. Dampaknya bisa berupa batuk kronis, suara serak, asma, sinusitis, infeksi telinga, hingga kerusakan gigi.

Pada tahap berat, pasien bisa mengalami gangguan tidur, penurunan kemampuan bekerja, bahkan depresi akibat pembatasan pola makan dan aktivitas.

“Paparan berulang akan menyebabkan peradangan, luka kronis, penyempitan saluran, hingga perubahan pada sel mukosa yang berpotensi menjadi prakanker. Dalam jangka panjang, ini bisa berkembang menjadi kanker,” ujarnya, Jumat (15/8).

GERD memang tidak langsung mematikan, tetapi jika dibiarkan bisa berujung pada kanker dan sangat menurunkan kualitas hidup,” sambung Prof. Ari.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa penanganan GERD harus komprehensif dengan menggabungkan obat, perubahan gaya hidup, dan edukasi pasien. Makanan dan minuman seperti daging merah, cokelat, keju, makanan berlemak, minuman bersoda, kopi, dan jeruk-jerukan harus dibatasi karena dapat memicu atau memperparah refluks.

Kebiasaan makan berlebihan, termasuk konsep all you can eat, juga menjadi faktor risiko.

“Pasien harus mengontrol berat badan, berhenti merokok, dan membatasi alkohol. Jangan tunggu parah baru berobat,” tegas Prof. Ari.

Adapun di sisi pengobatannya, Prof. Ari memimpin Investigator-Initiated Trial (IIT) terhadap obat generasi baru bernama Fexuprazan di Indonesia. Obat ini berasal dari kelas Potassium-Competitive Acid Blocker (P-CAB) yang bekerja menghambat produksi asam lambung dengan mekanisme berbeda dari terapi standar proton pump inhibitor (PPI).

Menurutnya, hasil uji klinis menunjukkan Fexuprazan memiliki kinerja terapeutik setara dengan PPI, namun dengan beberapa keunggulan.

“Fexuprazan memberikan pereda gejala lebih cepat, kontrol mual yang lebih baik, dan peningkatan kualitas hidup sejak minggu pertama. Data klinis juga menegaskan profil keamanannya baik, tanpa efek samping serius, serta tingkat kepatuhan pasien yang tinggi karena cukup diminum sekali sehari dan tidak bergantung pada waktu makan,” jelas Prof. Ari 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore