Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Juli 2025 | 16.05 WIB

Cara Unik Atasi Mahasiswa Galau, Pasang QR Code di Toilet, Sekali Scan Mereka Bisa Terhubung ke Psikolog

Ilustrasi delapan kebiasaan merusak diri yang cenderung muncul pada orang-orang yang mencintai dengan sungguh-sungguh tetapi mudah terluka. (Pexels/Mental Health America) - Image

Ilustrasi delapan kebiasaan merusak diri yang cenderung muncul pada orang-orang yang mencintai dengan sungguh-sungguh tetapi mudah terluka. (Pexels/Mental Health America)

JawaPos.com - Urusan kesehatan mental di kalangan remaja, khususnya mahasiswa tidak boleh dianggap remeh. Jika tidak ditangani dengan baik, masalah mental pada mahasiswa bisa berujung fatal.

Beberapa kampus melakukan pendampingan mental dan psikologi mahasiswanya secara maksimal. Diantaranya dilakukan oleh LSPR Institute.

Mereka menyadari bahwa secara psikologi atau mental, mahasiswa masih butuh pendampingan. Baik itu oleh orang tua, dosen, maupun teman sesama mahasiswa. 

Ghina Amani Kemal Gani selaku Executive Director LSPR Institute mengatakan salah satu titik yang mereka penting terkait dengan kesehatan mental mahasiswa adalah toilet. "Mahasiswa kalau lagi galau atau banyak pikiran, biasanya ke toilet," katanya kepada wartawan di kampus LSPR Institute Jakarta. 

Di balik setiap pintu toilet, disiapkan QR Code yang terhubung dengan unit Student Guide Office (SGO). Unit tersebut tugas utamanya adalah memberikan layanan pendampingan kepada mahasiswa. Khususnya terkait dengan psikologi atau mental. 

Di dalam SGO tersebut ada beberapa dosen senior dan psikolog. Jadi, mahasiswa yang sedang galau atau ada masalah dalam pikirannya, cukup dengan scan sudah terhubung dengan unit SGO. Bahkan bisa langsung janjian konsultasi dengan psikolog. 

Dalam kesempatan yang sama Founder dan CEO LSPR Institute Prita Kemal Gani menyoroti usia mahasiswa sekarang yang cenderung lebih muda-muda. Banyak mahasiswa baru di kisaran usia 17 sampai 18 tahun.

Sehingga secara mental atau psikologi, perlu dapat pendampingan untuk mendukung proses perkuliahan. "Anak-anak yang kuliah di sini mulai umur 17 tahun. Zaman saya dulu (mulai kuliah) 19 tahun," katanya pada Kamis (17/7). 

Karena masuk kuliah di usia yang sangat muda, maka lulusnya juga masih muda. Rita mengatakan, sekarang banyak remaja yang lulus sarjana di umur 21 tahun atau menginjak 22 tahun. "Di masa saya dulu, rata-rata lulus (sarjana) ysia 25 tahun. Secara mental lebih kuat," tambahnya. 

Selain kuliah di usia yang belia, Generasi Z (Gen Z) sekarang hidup di era teknologi. Semua keperluan dalam kehidupan dan pendidikan dimudahkan. Termasuk dengan adanya teknologi kecerdasan buatan.

"Mereka kelihatannya lemah. Tapi sebenarnya punya sisi-sisi yang kuat juga," tuturnya. 

Prita mencontohkan salah satu kekuatan Gen Z adalah jiwa tolong menolongnya. Misalnya banyak kejadian yang kemudian viral di media sosial (medsos) berkat rasa tolong menolong Gen Z.

Kelebihan Gen Z lainnya adalah kekompakan. Mereka kerap menggiring opini atau berita tertentu sehingga bisa meledak di media sosial. 

Dia mengatakan, kampus yang dia pimpin tetap memperhatikan kesehatan mental mahasiswanya. Diantaranya dengan mendirikan unit SGO.

Unit ini diisi oleh psikolog dan dosen-dosen senior. Mereka siap menjadi teman untuk mendampingi mahasiswa yang sedang butuh pendampingan secara psikologi atau mental. 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore