Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Mei 2025 | 15.38 WIB

Belajar dari Pengalaman Malaria, Pemerintah Pilih Uji Coba Vaksin TBC di Dalam Negeri

Pemkot Surabaya akan memperlakukan sanksi sosial kepada penderita TBC yang mangkir berobat. (Humas Pemkot Surabaya) - Image

Pemkot Surabaya akan memperlakukan sanksi sosial kepada penderita TBC yang mangkir berobat. (Humas Pemkot Surabaya)

JawaPos.com – Pemerintah Indonesia mengambil peran aktif dalam uji coba vaksin tuberkulosis (TBC). Alasannya, Indonesia merupakan negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia dan setiap tahunnya lebih dari 125 ribu orang meninggal akibat penyakit ini. Keputusan ini juga diambil sebagai pelajaran dari kegagalan Indonesia terlibat dalam pengembangan vaksin malaria sebelumnya.

"Waktu vaksin malaria ditemukan, kita tidak ikut. Akhirnya vaksinnya hanya cocok untuk orang Afrika karena memang dirancang berdasarkan genetik dan nyamuk di sana," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Dia menegaskanm di Indonesia punya banyak kasus malaria. "Tapi kita tidak kebagian manfaat maksimal dari vaksin itu," imbuhnya. 

Menurut Budi, pelibatan Indonesia dalam uji klinis vaksin TBC bukan hanya soal kontribusi ilmiah. Melainkan juga sebagai langkah strategis untuk memastikan vaksin yang dikembangkan cocok dengan karakter genetik dan lingkungan masyarakat Indonesia. 

Budi juga menekankan bahwa vaksin pada umumnya telah terbukti sebagai solusi efektif untuk penyakit menular mematikan. Dia mencontohkan cacar dan Covid-19 sebagai dua penyakit yang berhasil ditekan penyebarannya lewat vaksinasi.

"Covid bukan selesai karena obat atau screening, tapi karena vaksin. Sama seperti cacar yang dulu membunuh jutaan orang, sekarang hilang karena vaksin," kata Budi. 

Lebih lanjut, Budi menyebut bahwa TBC adalah pembunuh menular nomor satu di dunia, jauh di atas malaria atau penyakit lainnya. "Dalam satu menit, dua orang meninggal karena TBC. Di Indonesia, setiap empat menit satu orang meninggal. Ini bukan hal yang bisa ditunda-tunda," ujarnya.

Uji coba ini diharapkan selesai dan menghasilkan vaksin yang siap digunakan secara luas sebelum tahun 2029. Pemerintah berencana memasukkan vaksin ini ke dalam program vaksinasi nasional, mengingat beban penyakitnya yang sangat tinggi.

"Kalau kita bisa menyelamatkan 125 ribu jiwa tiap tahun lewat vaksin ini, itu bukan angka kecil. Itu satu kota. Ini bukan eksperimen, ini misi penyelamatan nyawa," ucap Budi.

Dengan dilakukan uji coba di Indonesia, diharapkan Indonesia bisa dapat prioritas untuk memproduksi vaksin TBC tersebut. Untuk saat ini, pabrik vaksin tersebut berada di Amerika. Namun dengan pendampingan ini diharapkan ada kesempatan bagi Indonesia untuk memproduksinya.

"Kita juga bisa dapat prioritas produksi vaksin. Melalui Bio Farma," tuturnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore