
ILUSTRASI: Anak-anak bermain dengan beraktivitas melompat, berlarian, dan memanjat. (DIPTA WAHYU/JAWA POS)
Si kecil mengadu kakinya nyeri kesakitan di malam hari. Jangan langsung panik. Bisa jadi anak sedang mengalami growing pain. Meski tidak berbahaya, hal itu memang bikin anak tidak nyaman. Bagaimana penanganan untuk mengurangi nyerinya?
KONDISI growing pain dapat dialami anak usia 2–12 tahun. Ditandai rasa nyeri pada tungkai bagian bawah, otot paha bagian depan, betis, dan belakang lutut. Orang tua tak perlu khawatir. ”Growing pain bukan gangguan pertumbuhan dan tidak ada kaitannya dengan tumbuh kembang anak,” ujar Dr dr Dian Pratamastuti SpA.
Umumnya, growing pain terjadi pada anak yang aktif. Aktivitas berlebihan di siang hari mencetuskan nyeri otot pada malam hari. ”Ini hal yang wajar terjadi. Apalagi pada anak yang sangat lincah. Habis lari-larian, lompat, joget, manjat, banyak gerak,” tutur dokter spesialis anak National Hospital tersebut.
Nyeri yang dirasakan berupa kram seperti berdenyut. Rasa sakitnya timbul-hilang. Biasanya muncul di malam hari dan kembali normal saat pagi. ”Durasi nyeri yang dirasakan tiap anak bervariasi. Ada yang 6 jam, 3 jam. Ingat, growing pain tidak sampai membuat anak kesulitan bergerak atau pincang,” jelasnya.
Apabila nyerinya mengganggu aktivitas dan terdapat bengkak atau kemerahan, segera bawa anak ke dokter. Termasuk jika dibarengi dengan demam, lemas, dan nafsu makan berkurang.
”Growing pain itu tidak ada riwayat jatuh atau cedera sebelumnya. Jadi, kalau sampai ada bengkak, memar merah, sendi sakit semua, bahkan anak jadi pincang jalannya, itu bukan growing pain,” tegasnya.
Dian melanjutkan, growing pain tidak berbahaya dan tidak berdampak pada pertumbuhan anak. Biasanya growing pain sembuh dengan sendirinya dalam jangka 1–2 tahun atau ketika anak masuk fase remaja. Meski begitu, rasa nyeri dapat mengganggu tidur anak.
”Tidak ada pengobatan khusus. Boleh minum parasetamol atau ibuprofen untuk menghalau nyeri. Di rumah, bisa dikompres air hangat atau mandi air hangat dan dipijat lembut otot yang nyeri,” bebernya.
Cukupi kebutuhan vitamin D anak. Sebab, anak yang defisiensi vitamin D berisiko mudah mengalami growing pain pada masa pertumbuhannya. Biasakan si kecil stretching sebelum beraktivitas fisik, pendinginan, dan istirahat teratur setelahnya. ”Intinya boleh beraktivitas, tapi hindari berlebihan supaya tidak mencetuskan nyeri pada malam harinya,” papar dr Dian. (lai/c7/nor)
---
PENCEGAHAN GROWING PAIN
• Tidur cukup setelah aktivitas fisik berlebih.
• Ajak anak aktif berolahraga untuk melatih kelenturan otot-otot tubuh. Minimal 30–60 menit/hari.
• Melakukan relaksasi otot sebelum tidur.
• Mandi air hangat sebelum tidur.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
