Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Desember 2024 | 22.13 WIB

Ancaman Pandemi Besar Bernama Antibiotik

ILUSTRASI: AI (AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI: AI (AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS)

Resistansi akibat penggunaan antibiotik serampangan bisa memicu kematian 10–39 juta orang pada 2050. Puskesmas dan posyandu bisa jadi garda depan untuk kampanye pencegahan.

FERLYNDA PUTRI, Jakarta-FAHMI SAMASTUTI, Surabaya

---

SIAPA yang tak keder dengan fakta-fakta ini: estimasi 10–39 juta kematian sampai 2050, USD 100 triliun untuk penanganan, prevalensi yang meningkat, dan perekonomian yang terdampak. Sebuah pandemi besar membayang jika satu hal ini tak segera diberi perhatian serius.

Apa itu? Resistansi antibiotik! Angka 10 juta kematian tersebut disampaikan Ketua Departemen Hubungan Lembaga Pemerintah Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Soroy Lordo SpPD KPTI FINASIM. Tapi, merujuk studi Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington yang dipublikasikan pada September lalu, angkanya bahkan diperkirakan lebih mengerikan lagi: 39 juta.

Sedangkan ekonom Inggris Jim O’Neill memprediksi, pada 2050, butuh USD 100 triliun untuk menangani bakteri resistan. Yang bakal paling terbebani tentu saja negara miskin lantaran penanganan infeksinya lebih kompleks dibandingkan negara maju.

”Ini jika antibiotik tidak dikelola dengan baik,” kata Soroy dalam ajang yang dihelat PB IDI secara daring Kamis (28/11) lalu.

Yang mengkhawatirkan, mengutip hasil surveilans dari 80 rumah sakit yang divalidasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, Ketua Purna Komite Pengendalian Resistansi Antimikroba Kemenkes Dr dr Hari Paraton SpOG(K) menyebut prevalensi bakteri resistan di Indonesia naik drastis. Dari sekitar 50–60 persen pada 2019 kini di kisaran 77 persen.

Pandemi Covid-19 juga disebut Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Rizka Andalucia menyebabkan peningkatan penggunaan antibiotik. Dia mencontohkan pemakaian azithromycin.

Sebelumnya, dokter hati-hati meresepkan. ’’Tapi, setelah pandemi Covid-19 terjadi, orang dengan mudahnya mencari azithromycin untuk mengobati flu ringan,” tuturnya.

Mikroba Mutasi

E, seorang ibu tiga anak di Surabaya, mengaku tiap kali membawa buah hati berobat ke dokter anak hampir selalu mendapat antibiotik. Terutama jika radang.

’’Kalau tidak ada antibiotiknya, biasanya panas atau demamnya tak turun-turun,” tuturnya kepada Jawa Pos.

Menurut dr Fauna Herawati SSi MFarm-Klin Apt, dalam penelitiannya pada 2020, banyak orang yang masih mengonsumsi antibiotik secara sembarangan karena belum memahami risiko kematian akibat infeksi bakteri resistan.

”Pasien yang merasa pusing, demam, atau reaksi inflamasi lainnya sering merasa pulih akibat konsumsi antibiotik. Jadi, mereka merasa disembuhkan oleh itu,” kata dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya itu.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore