Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Februari 2024 | 20.23 WIB

Bahaya Kanker Paru, Simak Pencegahan dan Pengobatannya

ILUSTRASI: Model memperagakan mengalami gejala kanker paru. - Image

ILUSTRASI: Model memperagakan mengalami gejala kanker paru.

Kanker paru merupakan kanker tersering pada laki-laki dan kelima tersering dari seluruh kanker pada perempuan. Faktor risiko utama kanker paru adalah merokok. Secara umum, rokok menyebabkan 80 persen kasus kanker paru pada laki-laki dan 50 persen kasus pada perempuan.

Pencegahan kanker paru dapat dilakukan dengan menghindari merokok dan berhenti bila telah merokok (perokok aktif), baik rokok konvensional, rokok elektrik, maupun vape. Serta dengan menghindari paparan terhadap asap rokok (perokok pasif).

Menerapkan gaya hidup sehat melalui olahraga, tidur yang cukup, menghindari stres, pola makan sehat secara teratur, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Selain merokok, terdapat juga faktor risiko lain yang tidak dapat dikendalikan, yaitu adanya kerentanan genetik. Seseorang dengan riwayat kanker sebelumnya atau riwayat kanker pada keluarga, dan riwayat penyakit paru seperti penyakit paru obstruksi kronik (PPOK), tuberkulosis atau penyakit fibrosis paru idiopatik, berisiko untuk terkena kanker paru meskipun tidak ada paparan rokok/karsinogen dan sudah menjalani gaya hidup sehat. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan sel bermutasi.

Pengobatan Kanker Paru

Pengobatan kanker paru tergantung pada stadium penyakit. Pengobatan dengan tujuan penyembuhan, pengendalian penyakit untuk memperpanjang hidup atau penanganan gejala dan pencegahan komplikasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Pengobatan kanker paru merupakan pengobatan multimodalitas. Untuk pasien dengan stadium awal (I-II) pengobatan yang tersedia adalah Pembedahan. Sedangkan untuk pasien dengan stadium lanjut (III-IV) pengobatan yang tersedia adalah Radioterapi, Kemoterapi, Terapi target, Imunoterapi, dan Paliatif.

Sebagian besar pasien yang datang sudah dalam stadium lanjut, dengan angka ketahanan hidup yang rendah. Skrining dapat membantu mendeteksi kanker paru pada stadium awal.

Skrining merupakan kegiatan penemuan kasus pada kelompok risiko tinggi sebelum munculnya gejala yang dilakukan secara sukarela, dan terbagi dalam 2 kelompok. Pertama, berusia di atas 45 tahun dengan riwayat merokok atau berhenti merokok kurang dari 10 tahun. Atau, bekerja dengan pajanan dengan silika/bahan karsinogen atau perokok pasif atau memiliki riwayat tuberkulosis paru, penyakit paru fibrosis atau lesi fibrotik.

Kedua, berusia di atas 40 tahun, memiliki risiko tinggi dan disertai dengan riwayat keganasan pada keluarga.

Untuk mengetahui apakah seseorang memiliki risiko terkena kanker paru atau tidak, salah satunya dengan meggunakan kuesioner NARU (keNAli paRU) yang dapat diakses secara online pada link berikut: https://qr.short.az/r/NARUSKRINING.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore