Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 September 2022 | 06.20 WIB

Perlu Pemerataan, 50 Persen Dokter Gigi Berdomisili di Pulau Jawa

APD LEVEL III: Selama pandemi, dokter gigi melayani pasien dengan alat pelindung diri lengkap. (Riana Setiawan/Jawa Pos) - Image

APD LEVEL III: Selama pandemi, dokter gigi melayani pasien dengan alat pelindung diri lengkap. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com– Indonesia saat ini sedang menyongsong bebas karies gigi di 2030. Sayangnya upaya menuju bebas karies gigi menghadapi sejumlah persoalan. Diantaranya adalah belum meratanya sebaran dokter gigi. Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan lebih dari 50 persen dokter gigi berada di pulau Jawa.

Belum meratanya sebaran dokter gigi tersebut harus dicarikan solusinya. ’’Sehingga Indonesia bisa mencapai target bebas karies gigi pada 2030 nanti,’’ kata Chief Strategy Officer (CSO) SATU Dental Felix Saputra di Jakarta pada Sabtu (24/9). Dia mencontohkan untuk kelompok dokter gigi saja, sebanyak 38 ribu orang berada di Pulau Jawa.

Kemudian untuk kelompok dokter gigi spesialis, sebanyak 5.000 orang berada di Pulau Jawa. Kondisi tersebut perlu diatasi. Supaya masyarakat Indonesia di manapun, bisa mengakses pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara mudah. Layanan kesehatan gigi dan mulut baginya penting, karena sebanyak 57 persen lebih penduduk Indonesia mengalami masalah gigi dan mulutnya.

Menurut Felix, tantangan menuju Indonesia bebas karies gigi di 2030 juga menghadapi tantangan lain. Yaitu kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi masih rendah. Berdasarkan hasil survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes di 2018 lalu, banyak keluarga masih belum memiliki kesadaran pribadi untuk mengakses fasilitas kesehatan gigi dan mulut secara rutin.

’’Ada sekitar 42,2 persen memilih untuk melakukan pengobatan gigi dan mulut sendiri,’’ katanya. Kemudian ada 10,2 persen masyarakat yang sudah mendapatkan perawatan oleh tenaga medis gigi. Fakta menarik lainnya adalah ada 1,3 persen masyarakat memilih ke tukang gigi untuk mengatasi persoalan gigi dan mulutnya.

Felix mengatakan menjaga kesehatan gigi dan mulut sangat penting. Sebab penderita sakit gigi dan gusi memiliki tingkat risiko lebih tinggi terhadap beberapa penyakit lainnya. Misalnya memiliki resiko terserang stroke 50 persen lebih tinggi pada usia 25-51 tahun. Lalu memiliki risiko sakit jantung dua kali lebih tinggi. Kemudian juga memiliki risiko kelahiran bayi prematur lebih tinggi pula. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore