Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 Februari 2022 | 14.48 WIB

Mengenal Kanker Darah Limfoma, Agresif dan Berpotensi Kematian

CEK: Salah satu gejala dari kanker limfoma adalah pembesaran kelenjar getah bening. Biasanya yang membengkak di bagian selangkangan, leher, atau ketiak. (Foto Ilustrasi Diperagakan Model - Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

CEK: Salah satu gejala dari kanker limfoma adalah pembesaran kelenjar getah bening. Biasanya yang membengkak di bagian selangkangan, leher, atau ketiak. (Foto Ilustrasi Diperagakan Model - Alfian Rizal/Jawa Pos)

Bulan ini tak ada awan kelabu lagi yang bergelayut di pangkuan hati sang pangeran cinta, Ari Lasso. Kakinya bakal siap melangkah lebih kukuh mengejar matahari setelah medis menyatakan kanker langka di dalam tubuhnya pupus.

---

SELAMAT datang kembali, Oppa Ari! Agustus tahun lalu, Ari membawa kabar yang mengejutkan publik. Lewat channel YouTube Deddy Corbuzier, Ari mengungkapkan bahwa dirinya didiagnosis kanker darah limfoma. Istilah lainnya adalah diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL). Pria kelahiran Madiun, 1973, itu menyampaikan bahwa kanker yang diidapnya tergolong langka. Jarang terjadi.

DLBCL tergolong kanker agresif dan berpotensi mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan segera. Dokter Putu Niken Ayu Amrita SpPD-KHOM mengungkapkan, ada dua jenis utama kanker limfoma atau kelenjar getah bening. Pertama, limfoma hodgkin yang melibatkan tipe limfosit sel B yang tidak normal disebut sel reed-sternberg. Jenis kanker itu termasuk limfoma yang lebih jarang terjadi. Lalu, yang kedua, limfoma non-hodgkin (LNH) adalah jenis yang paling umum. Biasanya berkembang dari limfosit B dan T (sel) di kelenjar getah bening atau jaringan di seluruh tubuh.

Niken menyatakan, limfoma memiliki sejumlah gejala yang perlu diwaspadai. Salah satunya, pembesaran kelenjar getah bening biasanya di selangkangan, leher, atau ketiak. Atau, lanjut dia, dapat juga ditemui di tempat lain seperti limpa, saluran cerna, dan rongga dada atau mediastinum. ’’Dapat diikuti gejala penyerta yang disebut gejala B seperti demam, kelelahan, dan keringat malam,’’ imbuhnya.

Staf Medis Fungsional Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unair RSUD dr Soetomo Surabaya itu menambahkan, limfoma termasuk keganasan yang agak sering ditemui. Termasuk nomor 7 keganasan di Indonesia. Berdasar data dari lembaga survei dunia Global Cancer Observatory (Globocan), ditemukan 16.125 kasus baru limfoma non-hodgkin di Indonesia pada 2020.

Hingga kini, penyebab pasti limfoma non-hodgkin belum diketahui. Namun, menurut Niken, diketahui ada faktor risiko yang meliputi beberapa hal. Di antaranya, sistem kekebalan tubuh yang lemah, paparan beberapa bahan kimia, infeksi helicobacter pylori kronis, radiasi atau kemoterapi sebelumnya, dan penyakit autoimun.

Bagaimana pasien menjalani pemeriksaan di awal? Niken menjelaskan, proses diagnosis awal untuk limfoma non-hodgkin adalah pemeriksaan fisik, gejala-gejala yang dialami, dan detail riwayat kesehatan. Jika ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening di area tubuh tertentu dan organ limpa, tanpa dapat menemukan penyebabnya, pasien bakal menjalankan pemeriksaan lebih lanjut.

Beberapa pemeriksaan lebih lanjut, antara lain, pemeriksaan biopsi untuk mengambil sampel jaringan yang membesar, kemudian akan diperiksa di laboratorium. Jika ditemukan limfoma non-hodgkin, pemeriksaan dilanjutkan untuk mengetahui stadium dan area persebarannya, sekaligus menentukan tipe limfoma non-hodgkin yang tumbuh. Niken menyampaikan, macam-macam biopsi yang dapat dilakukan adalah biopsi bedah, biopsi jarum, serta biopsi lainnya (biopsi dan aspirasi sumsum tulang, lumbal pungsi, dan sampel cairan peritoneal atau pleura).

Pemeriksaan lainnya selain biopsi adalah pemeriksaan darah lengkap dan urine untuk melihat seberapa lanjut suatu limfoma atau untuk mengetahui kadar sel darah putih atau sel darah merah atau keping darah. Tes kimia darah untuk memastikan fungsi hati dan ginjal. Pemeriksaan pada lactate dehydrogenase (LDH) dilakukan karena sering kali meningkat pada limfoma.

Tak Hanya Menyerang Pria


KANKER DLBCL ternyata tidak hanya menyasar kelompok pria. Dokter Toman Tua Julian Lumban Toruan SpPD-KHOM menjelaskan, limfoma tidak memandang jenis kelamin. Pria dan wanita memiliki risiko yang sama untuk terserang kanker tersebut. Penanganan kanker limfoma secara standar yang berlaku internasional ialah menggunakan kemoterapi. Tapi dapat juga disertai radiasi dan transplantasi sumsum tulang.

Nah, ada beberapa tips dari Toman sebelum menjalani kemoterapi. Antara lain, makan yang cukup, istirahat cukup, dan konsumsi minuman atau makanan yang mengandung jahe untuk mengurangi mual. Setelah kemoterapi, pasien bisa mengonsumsi obat antimual jika mual, makan dalam porsi kecil tapi sering, dan tidak makan makanan yang terlalu berbumbu atau pedas.

Toman menambahkan, saat menjalani kemoterapi, sebetulnya pasien tidak perlu menggunduli rambut dulu sebelum kemoterapi. Tapi, lanjut dia, ada beberapa pasien yang melakukan itu untuk kepraktisan. Menurut Toman, tergantung preferensi setiap pasien. ”Jangan lupa untuk tetap melakukan kegiatan spiritual dan religius. Supaya mental tetap terjaga selama pengobatan,” tuturnya.

Lantas, bagaimana pengobatan secara herbal? Alumnus Spesialis Penyakit Dalam dan Subspesialis Hematologi Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu menjelaskan, hingga kini belum ada studi penelitian yang mendalam tentang keefektifan pengobatan herbal untuk mengobati kasus limfoma.

Dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah, Pondok Indah, Jakarta Selatan, tersebut mengungkapkan, limfoma termasuk kanker yang dapat disembuhkan sepanjang pengobatannya dilakukan dengan benar. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pasien. Antara lain, jangan mengonsumsi makanan yang mengandung pengawet, kurangi gula, stop merokok, rutin berolahraga, dan istirahat yang cukup.

STADIUM KANKER LIMFOMA NON-HODGKIN

Setelah diagnosis limfoma non-hodgkin dikonfirmasi, pemeriksaan stadium sangat diperlukan untuk membantu mengembangkan rencana pengobatan. Ada empat stadium dalam limfoma non-hodgkin. Yaitu:

Stadium 1 – kanker menyerang salah satu organ. Misalnya, hanya limfa pada paha atau leher.

Stadium 2 – kanker menyerang dua kelompok organ atau lebih, bisa pada bagian atas atau bawah diafragma (selaput tipis membatasi rongga perut dan rongga dada).

Stadium 3 – kanker sudah menyebar ke organ limfa pada tubuh bagian atas dan bawah diafragma.

Stadium 4 – kanker sudah menyebar melalui sistem limfatik dan masuk ke organ atau sumsum tulang.

Sumber: dr Putu Niken Ayu Amrita SpPD-KHOM

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore