Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Februari 2022 | 14.30 WIB

Gangguan Irama Jantung pada Anak Bisa Picu Kematian, Ini Gejalanya

Ilustrasi kelainan jantung bawaan dari kecil. - Image

Ilustrasi kelainan jantung bawaan dari kecil.

JawaPos.com–Penyakit jantung bisa dialami anak bukan hanya orang dewasa. Salah satunya adalah kondisi gangguan irama jantung yang tidak normal atau secara medis disebut aritmia.

Kondisi itu dapat membuat kinerja jantung menjadi kurang efisien. Kondisi tersebut bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak-anak.

Jenis aritmia yang dapat dialami anak-anak, antara lain Takikardia (detak jantung cepat), Bradikardia (detak jantung lambat), Sindrom Q-T Panjang, dan Sindrom Wolff-Parkinson-White.

Meskipun ada jenis aritmia yang tidak berbahaya dan tidak membutuhkan tindakan khusus, detak jantung yang tak beraturan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Gejala Aritmia Pada Anak

Apabila mendapati gejala yang tidak biasa, sepatutnya orang tua waspada. Sebab, jantung adalah salah satu organ vital tubuh.

Dampaknya akan menjadi lebih serius ketika anak merasakan gejala seperti berbedar, pusing atau kliyengan, tubuh lelah dan lemas, wajah terlihat lebih pucat, sulit bernapas, hilang kesadaran atau pingsan, nyeri dada, detak jantung keras atau palpitasi. Selain itu, anak menjadi mudah marah dan kehilangan nafsu makan, serta kejang-kejang.

Pada kasus berat, aritmia dapat menyebabkan terjadinya stroke bahkan kematian mendadak.

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Heartology Cardiovascular Center, Dicky Armein Hanafy menjelaskan, cara mengobati penyakit jantung pada anak seperti aritmia tergantung dari jenisnya. Dulu, satu-satunya cara mengatasi aritmia adalah dengan meresepkan obat-obatan.

”Tapi pemberian obat pada umumnya tidak efektif karena harus dipantau dengan ketat dan memiliki efek samping yang tidak diharapkan,” kata Dicky secara daring baru-baru ini.

Pengobatan

Saat ini, ada pilihan terapi lain bagi pasien aritmia. Yakni Ablasi Frekuensi Radio yang menggunakan instrumen kecil dengan energi panas untuk menghancurkan sirkuit listrik yang tidak normal penyebab aritmia.

Tindakan ablasi 3 dimensi dilakukan dengan menggunakan HD Grid 3D Mapping System.  Teknologi itu diyakini memberikan paradigma baru dalam pemetaan aritmia, baik yang simple maupun kompleks.

Paradigma lama menggunakan kateter bipolar, sedangkan HD Grid menggunakan kateter multipolar dan multidirectional sehingga dapat mendeteksi gap (celah) yang tidak terlihat kateter bipolar.

”Selain itu, menggabungkan pemetaan magnetik dan impedans secara bersamaan, yang memungkinkan tindakan kateter ablasi dilakukan dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi,” tambah Dicky.

Hal itu dibuktikan dengan bukti klinis yang menunjukkan penggunaan HD Grid mampu menurunkan tingkat kekambuhan menjadi hanya sekitar 5–10 persen setahun pasca tindakan. Itu artinya 5–6 kali lipat lebih baik dibanding teknologi yang lama.

Pada aritmia dengan detak jantung lambat, penggunaan obat-obatan umumnya tidak efektif sehingga perlu dilakukan pemasangan alat pacu jantung permanen (Permanent Pacemaker/PPM). Pada anak, umumnya tindakan itu menjadi lebih sulit karena besarnya ukuran pacemaker. Tetapi dengan perkembangan teknologi, saat ini sudah tersedia alat pacu jantung yang lebih kecil dan tanpa kabel (Leadless Pacemaker).

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore