
Photo
JawaPos.com – Pelayanan kesehatan di Indonesia sempat dibuat repot saat terjadi kelangkaan oksigen. Kasus ini terjadi ketika Covid-19 sedang tinggi-tingginya pada periode Juni-Juli lalu. Di tengah ancaman krisis oksigen yang bisa kembali terulang, terapi inhalasi bisa menjadi solusi.
Informasi tersebut disampaikan Ketua Perhimpunan Dokger Digital Terintegrasi Indonesia (Perdigti) Agus Ujianto. Dia menuturkan pemberian oksigen bukan merupakan terapi utama dalam penanganan penyakit pernapasan. Termasuk pada kasus pasien dengan Covid-19.
Agus mengatakan oksigen diberikan kepada pasien yang mengalami gagal napas. Untuk itu, dia mengatakan sebelum sampai jatuh pada kondisi gagal napas dan membutuhkan oksigen, masyarakat harus memperkuat promotive dan preventif. Salah satu upaya pencegahan supaya kasus penyakit pernapasan tidak semakin parah adalah melalui terapi inhalasi.
"Preventif atau pencegahan ini penting,"’ katanya Sabtu (16/10).
Pencegahan itu penting sebelum seseorang jatuh dalam kondisi terlambat bahkan mengamali morbiditas atau mortalitas. Untuk itu Agus mengatakan inovasi terapi inhalasi melalui berbagai alat, termasuk modifikasi purifier harus diapresiasi.
Dengan adanya terapi inhalasi tersebut, ketika terjadi kelangkaan oksigen dokter bisa melakukan pengelompokan pasien. Yaitu mana pasien yang membutuhkan oksigen murni. Kemudian kelompok pasien mana cukup diberikan terapi nebulasi dengan bantuan udara bersih dicampur sejumlah obat yang direkomendasikan.
Agus mengatakan keuntungan utama dari terapi inhalasi adalah obat yang diberikan secara langsung bisa menuju lumen internal saluran pernafasan.
"Kemudian obat tersebut menuju target kerjanya di dalam paru-paru," tutur Agus yang juga dokter spesialis bedah.
Melalui terapi inhalasi, onset kerja obat bakal lebih cepat. Kemudian dosis obat yang diberikan lebih kecil. Dengan kata lain dosis sistemik sebagian besar obat yang diberikan secara inhalasi lebih rendah dibandingkan obat oral maupun intravena. Sehingga efek samping sistemiknya juga lebih rendah.
Agus mengatakan pemberian oksigen kepada pasien, sama halnya pemberian obat. Sebab sama-sama mempunya indikasi. Terapi oksigen merupakan pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih besar dibandingkan udara sekitar. Tujuannya untuk memperbaiki atau mencegah kekurangan oksigen dalam sel. Dia mengingatkan pemberian oksigen kepada pasien yang tidak sesuai dengan indikasi, bisa berdampak buruk.
Dia mengatakan untuk membuat oksigen medis, ada sejumlah cara. Seperti cara destilasi dan adsorbsi. Teknik destilasi umumnya dipakai pabrikasi atau produksi massal. Sedangkan teknik adsorbsi digunakan pada produksi oksigen medis skala lebih kecil. Sedangkan teknologi purifikasi oksigen bukan untuk membuat oksigen medis. Sebaliknya hanya mendorong udara bersih dan hanya mengandung oksigen alam sekitar 20 persen.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
