
HASIL BEREMBUK: Orang tua tidak perlu otoriter atau saklek atas peraturan yang diterapkan. Anak bisa diajak berdiskusi mengenai peraturan bersama tersebut. Dengan demikian, anak juga belajar berkomitmen atas peraturan yang dibikinnya. (Dite Surendra/Jawa
TIDAK terasa waktu berjalan begitu cepat. Buah hati yang dulu masih mungil dan ditimang-timang beranjak remaja. Banyak fase kehidupan yang akan dihadapi. Termasuk saat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Misalnya, ketika mereka mulai bermain hingga pulang larut malam dengan temannya. Lalu, bagaimana sikap Mommies dan Daddies? Perlu marah?
---
ORANG tua jelas khawatir saat jarum jam terus berjalan. Malam semakin sunyi. Malaikat kecil yang dirindukan tak kunjung menampakkan diri. Berharap bisa makan bareng di meja makan, eh ternyata anak pulang larut malam. Geregetan muncul dalam hati.
Setelah itu, tidak jarang, emosi mama atau ayah membuncah. Sapu sudah digenggam di tangan kanan. Siap melayang ke kaki anak. Eits, tunggu dulu. Orang tua perlu mengontrol emosi dengan baik. ”Buat kesepakatan dengan anak remaja. Jam malam itu kapan, jangan langsung marah,” kata Laurencia Ika Wahyuningrum selaku konselor anak dan remaja saat dihubungi Jawa Pos pada Rabu lalu.
Menurut perwakilan Social Entrepreneur Indonesia pada Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) 2013 di Nusa Dua Bali itu, usia remaja lebih banyak nurut kepada teman-temannya daripada orang tua. Yang menjadi modeling para remaja adalah temannya.
Nah, lanjut Ika, ketika menentukan jam malam, sebaiknya duduk bersama anak. Berdiskusi dengan anak. Ngomong dari hati ke hati dan dalam kondisi hati yang senang.
Dia mengatakan, orang tua tidak perlu otoriter atau saklek orang tualah yang harus menentukan. Anak dipanggil. Ditentukan bersama peraturannya seperti apa. Menurut dia, peraturannya itu pun harus dibuat bersama dari hasil diskusi. ”Misalnya, Kak, kamu jam malamnya itu jam 8 malam ya. Pokoknya, jam 8 malam nggak boleh pegang gadget. Nggak boleh keluar. Nggak boleh ini dan itu,” jelasnya.
Setelah ketemu waktu untuk jam malam, orang tua bisa menanyakan dulu kepada buah hati. Apakah anak setuju atau tidak? Lalu, bagaimana jika anak menawar? Ika menyebutkan, hal itu tidak masalah. Dia menyatakan bahwa justru proses tawar-menawar mengindikasikan ada tahapan diskusi.
Ika mengungkapkan, orang tua tidak direkomendasikan untuk bersikap acuh saat anak menawar hasil diskusi. Orang tua dapat menanyakan alasan anak mengapa menawar. ”Misalnya, kakak tidak setuju jam malam pukul 21.00 kenapa? Anak menjawab, iya ma baru selesai les pukul 21.00 boleh relax sebentar nggak?” papar alumnus psikologi Ubaya itu.
Perempuan kelahiran Surabaya, 1977, tersebut menyampaikan, orang tua perlu menjadi teman untuk anak. Cara komunikasinya seperti teman anaknya. Namun, konsep teman itu bukan seperti pada umumnya. Teman yang masih punya otoritas. Jadi, otoritas sebagai orang tua tetap tidak boleh kendur atau luntur.
Dalam menentukan jam malam, orang tua juga bisa memaparkan tujuan. Bukan sekadar aturan, tapi tujuannya juga harus dibahas. Dengan demikian, anak bisa memahami mengapa orang tua memberikan jam malam untuk dirinya.
Saat ini, remaja tumbuh dengan kondisi yang berbeda dengan orang tuanya. Ika menuturkan, beragam informasi melimpah. Salah satuanya melalui media sosial. Gaya berpikir remaja bereskalasi secara masif. Karena itu, orang tua tidak bisa menyamakan apa yang dialami ketika masih muda dengan anak remaja sekarang. ”Wawasan orang tua tidak boleh kudet (kurang update, Red),” imbuhnya.
Ika mengingatkan, jangan sampai saat sudah ada kesepakatan jam malam, ternyata orang tua sendiri yang melanggar. Kecuali jika ada kondisi yang membutuhkan waktu lebih hingga jam malam.
Berbicara dengan anak dibuat dengan santai dan kepala dingin. Anak bukan musuh. Termasuk ketika anak melanggar jam malam. ”Kita pakai terminologi bukan punishment (hukuman). Hukuman membuat anak ke arah mencederai perasaannya, buat konsekuensi. Kalau konsekuensi, anak bisa lebih belajar,” ucap Ika.
Dia memberikan catatan terkait konsekuensi. Sebelum masuk ke konsekuensi, orang tua perlu konfirmasi. Orang tua bisa menanyakan kenapa anak kok melanggar jam malam. ”Ternyata anak menyelesaikan PR sekolah yang lagi banyak. Orang tua sampaikan, ya konsekuensinya badanmu lelah dan ngantuk kan?” tambah Perempuan Inspiratif NOVA 2010 itu.
Baca Juga: Gagal Kuasai Gudang Rp 7 M Hasil Lelang, Laporkan Penyewa ke Polisi
BOLEH DIJADIKAN ALASAN NIH, MOM
- Bingung ketika anak protes dengan menanyakan mengapa mereka harus patuh terhadap jam malam, Mom? Tenang. Ada tiga alasan yang bisa dijadikan rekomendasi bagi orang tua. Namun, tetap disampaikan secara baik ya. Apa saja itu?
- Kesehatan. Misalnya, kenapa anak harus tidur sebelum pukul 22.00. Sajikan data. ”Lewat pukul 22.00 ternyata tidak baik untuk kesehatan ini atau itu,” tutur Ika.
- Pengaturan atau manajemen waktu. Biasanya, orang tua akan memberikan alasan mengenai manajemen waktu. Anak perlu belajar menata waktu.
- Melatih disiplin atau konsisten. Setiap pukul 22.00, anak harus tidur. Aktivitas itu diulang-ulang, maka anak belajar disiplin waktu.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
