Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Juli 2021 | 18.35 WIB

Mengenal Covid-19 Varian Lambda, Lebih Bahayakah dari Delta?

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Setelah varian Delta, Kappa, dan P1 dari Inggris, kini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan nama varian terbaru yakni varian Lambda. Berbeda dengan Kappa dan Delta, varian Lambda bukan dari India.

Varian C.37 yang lebih dikenal sebagai Lambda, adalah perhatian terbaru yang diidentifikasi oleh WHO. Apakah lebih bahaya?

Varian ini pertama kali diidentifikasi di Peru pada Desember tahun lalu dan sejauh ini telah terdeteksi dalam sampel dari sekitar 26 negara yang dibagikan dengan GISAID. Jumlah sampel terbanyak yang diajukan adalah dari Cile diikuti oleh AS.

Peru berada di urutan ketiga dalam daftar termasuk di Amerika Utara dan Selatan, Eropa dan Oseania. WHO mengatakan bahwa varian ini memiliki banyak mutasi pada protein lonjakan, yang dapat berimplikasi pada mudahnya virus menyebar di antara manusia.

"Lambda terdeteksi di Peru bulan Agustus 2020 setahun lalu," kata Ahli Spesialis Penyakit Dalam yang juga Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Baca Juga: Mengenal Bahaya Mutasi Covid-19 Kappa, Masih Keluarga Delta dari India

Menurut Prof Zubairi varian ini dinamakan Lambda mulai Juni oleh WHO. Sampai Juni itu virus telah menyebar ke seluruh AS.

"Termasuk Argentina, Cile dan Ekuador," katanya.

Dilansir dari Financial Times, Minggu (4/7).Lambda, varian ini mengkhawatirkan para pejabat di Amerika Latin dan membingungkan para ilmuwan karena serangkaian mutasinya yang tidak biasa. Seorang dokter di mikrobiologi molekuler di universitas Cayetano Heredia di ibukota Peru, Lima,
Pablo Tsukayama, mengatakan bahwa ketika petugas medis pertama kali mencatat varian pada bulan Desember, itu hanya menyumbang satu dari setiap 200 sampel.

“Pada Maret, bagaimanapun, varian itu menyumbang sekitar 50 persen sampel di Lima dan sekarang sekitar 80 persen. Itu akan menunjukkan tingkat penularannya lebih tinggi daripada varian lain," katanya.

Menurut WHO, Lambda menyumbang 82 persen dari kasus Covid-19 baru pada Mei dan Juni di Peru, yang memiliki tingkat kematian virus Korona tertinggi di dunia. Di negara tetangga Cile juha menyumbang hampir sepertiga dari kasus baru.

Tak Agresif

Namun, para ilmuwan tetap tidak yakin apakah mutasi Lambda lebih mudah menular atau tidak. Menurut penasihat penyakit virus yang muncul di Organisasi Kesehatan Pan-Amerika Jairo Méndez Rico, saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu lebih agresif daripada varian lain.

“Mungkin saja memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi tapi tak ada bukti lebih agresif," katanya.

WHO pada Juni menyebut Lambda sebagai variant of concern ketujuh sejauh ini. Badan kesehatan global itu percaya bahwa jenis virus semacam itu tidak terlalu mengancam daripada varian Alpha, Beta, Gamma, dan Delta, yang masing-masing terdeteksi di Inggris, Afrika Selatan, Brasil, dan India.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore