
Photo
JawaPos.com - Kasus Covid-19 di India melonjak lagi. Akibatnya, distribusi vaksin Covid-19 ke seluruh dunia terhambat. Sebab sebagai negara produsen vaksin terbesar di dunia, India mengalami embargo.
Embargo adalah pelarangan perdagangan dari sebuah negara. Dalam kasus ini, vaksin Covid-19 yang diproduksi di India tidak boleh keluar dari sana. Sehingga, negara ini tidak akan mengirim vaksin AstraZeneca ke WHO dan GAVI.
Menanggapi kondisi ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku deg-degan sebab stok vaksin di Tanah Air menipis. Stok vaksin Sinovac tinggal sisa 7 juta dosis lagi. Sedangkan sisa vaksin AstraZeneca yang sekitar 10 jutaan dosis masih terhambat di India yang sedang mengalami embargo.
"Akibatnya, WHO sama GAVI panik karena memang India adalah pabrik vaksin terbesar dunia di luar Tiongkok. Novavax, AstraZeneca itu dibikin cukup besar di India, saya dengar Pfizer juga ada. Akibatnya kurang supply-nya," tegas Menkes Budi dalam webinar baru-baru ini.
Alhasil, Indonesia masih terkendala mendapatkan stok sisa 10,7 juta dosis vaksin AstraZeneca. Baru 1,1 juta dosis yang tiba.
"Jadi kita harusnya dapat jatah ini sekitar 11,7 juta di Maret-April, dapatnya baru 1,1 juta yang 10,6 jutanya nyangkut. bulan Maret kebetulan Sinovac masih cukup banyak. Namun bulan April Sinovac cuma 7 juta. Saya lagi deg-degan makanya," kata dia.
Relawan Covid-19 dokter Tirta Mandira Hudhi mengatakan soal embargo vaksin Covid-19 oleh beberapa negara produsen, ia mendukung langkah pemerintah untuk mendesak agar pasokan vaksin tetap lancar. “Tapi saya juga memahami langkah produsen vaksin yang lebih mendahulukan kebutuhan negaranya,” ujar dr. Tirta.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Ari Fahrial Syam mengusulkan pemerintah perlu segera mencari vaksin dari negara-negara produsen vaksin yang tidak memiliki kasus Covid-19 yang tinggi. Ia mengambil contoh Tiongkok yang memiliki industri vaksin Covid-19 yang banyak, seperti Sinovac, Sinopharm, dan sebagainya.
“Kita bisa minta Sinovac misalnya untuk menambah jumlah vaksin dan mempercepat pengiriman vaksin ke Indonesia,” jelasnya.
Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi masyarakat yang sudah bersedia untuk mengikuti program vaksinasi Covid-19. Meski begitu ia mengakui, program vaksinasi cenderung berjalan lambat sebab memang terbatasnya kesediaan vaksin. Khusus untuk vaksin Sinovac, Menkes Budi menyebutkan jumlah stoknya hingga April hanya tersedia 7 juta dosis.
Ia menyebutkan pada bulan April, Sinovac hanya tersedia 7 juta dosis. Lalu baru mulai tersedia lagi tanggal 15 April karena adanya kendala mesin di PT Biofarma.
"Saya deg-degan karena sedang di-cleansing mesinnya itu di Biofarma untuk bisa di-upgrade mulai bulan Mei bisa lebih besar. Jadi saya hanya punya 7 juta stok dari Sinovac, tadinya saya pikir bisa dapat 7,5 juta dari Astrazeneca jadi 15 juta," kata Menkes Budi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
