JawaPos.com - Indonesia menjanjikan masyarakat akan menerima vaksin Covid-19 sebentar lagi. Vaksin tersebut berasal dari Sinovac asal Tiongkok. Hanya saja, survei terbaru menyebutkan, 69 persen masyarakat masih ragu-ragu hingga tak bersedia menerima vaksin.
Dalam survei Laporcovid19.org, peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, dan Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan Risiko Bencana (FPT PRB), hanya 31 persen responden menyatakan bersedia menerima vaksin Biofarma-Sinovac. Vaksin ini saat ini tengah menjalani uji klinis fase tiga.
Sementara penerimaan responden terhadap vaksin Merah Putih yang tengah dibuat LBM Eijkman-Biofarma atau buatan anak bangsa sedikit lebih baik. Hasilnya 44 persen bersedia dan 56 persen responden menyatakan ragu-ragu hingga tidak bersedia menerima.
Survei ini merupakan studi cross-sectional dan menggunakan teknik convenience sampling untuk
merekrut responden dengan kriteria berusia 18 tahun ke atas. Pengambilan data dilakukan secara online
(mudah, murah, dan aman dilakukan di masa pandemi) menggunakan aplikasi survei Qualtrics pada 22
September hingga 3 Oktober 2020.
Terdapat lebih dari 2.500 pengisi survei. Setelah melakukan pembersihan (data cleaning), ada 2.109 responden (N = 2.109) yang datanya diolah untuk kepentingan studi ini. Data kemudian diolah secara deskriptif dan inferensial (korelasional antar variabel). Survei ini memiliki sejumlah keterbatasan, termasuk dilakukan secara daring sehingga hanya bisa menjangkau mereka yang memiliki akses terhadap internet.
Responden survei menunjukkan pemahaman yang baik mengenai pandemi Covid-19, baik tentang apa
itu Covid-19 (misalnya demam dan kehilangan penciuman sebagai gejala Covid-19) dan ancamannya bagi
kesehatan. Mayoritas responden khawatir dan percaya bahwa pandemi Covid-19 memiliki dampak buruk bagi
kesehatan. Sebagian besar responden (77,9 persen) mempercayai sumber informasi terkait Covid-19 dari pakar kesehatan/kesehatan masyarakat/epidemiolog.
Peneliti dari LaporCovid19 Irma Hidayana dan Kolaborator Ahli LaporCovid19 Dicky Pelupessy menjelaskan survei ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman dan penerimaan masyarakat terhadap vaksin dan obat-obatan Covid-19 di Indoensia. Berdasarkan temuan survei ini, kata dia, terlihat bahwa keyakinan masyarakat terhadap vaksin Covid-19 Sinovac-Biofarma maupun vaksin Merah Putih LBM Eijkman ini masih cukup rendah.
"Temuan survei ini mengindikasikan bahwa masyarakat belum meyakini bahwa vaksin yang dijanjikan tersedia di akhir tahun 2020 atau awal tahun 2021 akan menuntaskan penanganan pandemi Covid-19. Agar vaksin ini efektif membangun kekebalan komunitas terhadap Covid-19, vaksin setidaknya harus diberikan kepada 70
persen populasi," tegas mereka dalam konferensi pers secara daring, Selasa (13/10).
Dia memahami pandemi Covid-19 sudah melanda Indonesia selama hampir delapan bulan. Sejak pertengahan tahun, pemerintah sudah menyiapkan ketersediaan vaksin Covid-19, sebagai satu langkah untuk mengatasi pandemi. Bahkan, pemerintah sudah membentuk Tim Percepatan Pengembangan Vaksin Covod-19. Selain membangun komitmen dengan perusahaan dari Tiongkok, Sinovac dengan BUMN Biofarma, pemerintah juga mendorong pembuatan vaksin dalam negeri oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.
Hampir bersamaan dengan itu, pembuatan obat Covid-19 juga disiapkan oleh tim dari Universitas Airlangga (Unair) yang bekerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI Angkatan Darat (AD). Meski informasi tentang proses pembuatan vaksin dan obat Covid-19 tengah berjalan, belum banyak studi yang mengelaborasi pendapat dan keyakinan masyarakat terhadap vaksin dan obat Covid-19 serta dorongan untuk mau menggunakan obat ataupun vaksin Covid-19 yang hingga saat ini masih dalam tahap uji klinis. Sementara, pemerintah telah menyosialisasikan mengenai ketersediaan vaksin di akhir tahun 2020 atau awal tahun 2021.
Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah mengambil langkah evaluatif terhadap strategi komunikasi dalam penyediaan obat-obatan dan vaksin. Penyediaan obat dan vaksin harus diinformasikan sebagai salah satu dari upaya menyeluruh untuk mengendalikan pandemi ini.
"Yaitu dengan pelaksanaan publichealth surveillance yang kuat dan konsisten termasuk penerapan tes, lacak, dan isolasi, melalui intervensi sosial dan pembatasan serta penerapan protokol kesehatan (cuci tangan, menjaga jarak, dan masker) yang baik," kata mereka.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=KZpD0p-Bcf0&ab_channel=JawaPos