Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 November 2018 | 00.25 WIB

Kini Ada Teknologi Baru Tangani Nyeri Osteoporosis Tulang Belakang

Ilustrasi nyeri tulang belakang. (Istimewa) - Image

Ilustrasi nyeri tulang belakang. (Istimewa)

JawaPos.com - Salah satu jenis degenerasi (menurunnya fungsi) tulang belakang yang banyak dialami masyarakat Indonesia adalah osteoporosis. Ini merupakan kondisi ketika kepadatan tulang berkurang. Berkurang atau hilangnya kalsium pada tulang belakang menyebabkan melemahnya struktur atau kepadatan tulang sehingga meningkatkan risiko fraktur.


Fraktur tulang belakang, juga disebut fraktur kompresi dapat menyebabkan nyeri pinggang yang menjadikan penderitanya kesulitan berdiri, jalan, duduk atau mengangkat suatu benda. Gejala lain yang dapat ditimbulkan pada fraktur tulang belakang adalah berkurangnya berat badan penderita.


"Saat ini sudah banyak bergeser ke usia muda. Apalagi untuk perempuan yang sudah menopause pasti rentan Osteoporosis," kata Spesialis Bedah Saraf Brain & Spine Bunda Neuro Center, Jakarta dr. Ibnu Benhadi SpBS(K), kepada JawaPos.com di RSU Bunda Jakarta baru-baru ini.


Data lain bahkan menunjukan sebanyak 40 persen wanita dengan usia di atas 80 tahun dipastikan memiliki osteoporosis tulang belakang. X-ray dan CT scan dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis osteoporosis. "Gaya hidup rutin berolahraga, makan-makanan berkalsium, dan minum susu bisa memperkuat tulang," ungkapnya.


Teknologi Terbaru Atasi Osteoporosis


Tidak menutup kemungkinan dokter menganjurkan pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan dual X-ray absorptiometry (DXA atau DEXA) scan. Saat diagnosis osteoporosis tulang belakang ditegakkan, dokter dapat memberikan beberapa obat-obatan yang bertujuan mencegah terjadinya fraktur tulang belakang.


Menurut dr. Ibnu, obat-obatan ini bekerja dengan cara memperkuat tulang dan mencegah pengeroposan. Beberapa obat osteoporosis yang sudah mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, di antaranya Bisfosfonat, Calcitonin dan Teriparatide.


Pada penderita osteoporosis yang sudah dengan fraktur tulang belakang, terapi termasuk memberikan obat penghilang rasa sakit, bed rest untuk beberapa saat, hingga penggunaan korset khusus dan pembedahan.


Kyphoplasty dan Vertebroplasty, merupakan teknologi minimally invasive surgery yang dapat digunakan untuk mengatasi fraktur tulang belakang. Dengan bahan khusus seperti semen yang disebut polymethylmethacrylate (PMMA) yang disuntikan secara langsung pada tulang belakang yang mengalami fraktur.


Sebelum penyuntikan PMMA dilakukan, balon khusus dimasukan dan dikembangkan pada tulang yang mengalami fraktur/retak, menggunakan bantuan X-ray fluoroscopy menuju lokasi yang diharapkan dokter. Tujuan tindakan ini adalah mengembalikan tinggi dan bentuk tulang belakang sehingga mengurangi deformitas dan meningkatkan stabilitas tulang belakang.


"Kyphoplasty dilakukan menggunakan anastesi lokal atau umum. Tindakan bedah minimal ini umumnya membutuhkan waktu sekitar 30-60 menit," tutupnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore