Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Juli 2021 | 23.21 WIB

Turunkan Angka Stunting, BKKBN: Harus Ada Kerja Sama Banyak Pihak

Petugas Kesehatan dari Puskesmas Kebayoran Lama di bawah Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan melakukan pemeriksaan tumbuh kembang anak di Kawasan Bungur, Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (16/12/2020). Kegiatan rutin ini dalam program pencegahan stunting,  u - Image

Petugas Kesehatan dari Puskesmas Kebayoran Lama di bawah Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan melakukan pemeriksaan tumbuh kembang anak di Kawasan Bungur, Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (16/12/2020). Kegiatan rutin ini dalam program pencegahan stunting, u

JawaPos.com - Masalah stunting masih menjadi pekerjaan rumah bagi dunia kesehatan di Indonesia. Terlebih di tengah pandemi, target penanggulangan hambatan kesehatan seperti stunting menjadi semakin terbebani. Padahal, pemerintah sedang mencanangkan target penurunan angka balita stunting menjadi 14 persen pada 2024.

Terkait masalah stuntin, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)telah ditunjuk oleh Presiden Republik Indonesia sebagai Ketua Pelaksana Program Percepatan Penurunan Stunting pada 25 Januari 2021 lalu. Kendati demikian, Kepala BKKBN Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, mengungkapkan, penurunan angka stunting tentu bukan menjadi tanggung jawab satu instansi.

Menurutnya, harus ada kerja sama multipihak untuk mempercepat upaya menekan angka stunting, terlebih di tengah pandemi. Maka dari itu, hari ini BKKBN dan Danone Indonesia menandatangani nota kesepahaman dan melakukan sinergi program strategis kedua pihak untuk mencegah stunting.

Baca Juga: Cegah Stunting, Jangan Berikan Kental Manis kepada Bayi dan Anak

“Tantangan yang serius bagi bangsa untuk menciptakan generasi yang unggul, bahwa kesempatan untuk memetik bonus demografi itu tidak lama, sehingga sekarang negara kita ketika masuk di dalam 'Window Opportunity' itu dibutuhkan generasi yang unggul, yang sehat dan tidak stunting. Itu 'real' betul-betul dibutuhkan dan memang sekarang ini waktunya," ujar Hasto Wardoyo.

Dirinya memandang, kalau sekarang ini tidak mendapatkan kualitas SDM yang baik, maka ketika sudah tersusul dengan kondisi demografi populasi lansia jauh lebih besar, maka permasalahaannya sudah berubah dan tidak bisa lagi dikoreksi apabila ada kekurangan. "Maka ini penting sekali dan Bapak Presiden memberi perhatian besar pada kualitas SDM kita," tutur dokter Hasto

Bicara masalah gizi, angka stunting masih berada diangka 27,7 persen. Kemudian anemia kekurangan zat besi itu masih sangat dominan. Untuk itu, memiliki program unggulan yakni program pembangunan keluarga kependudukan dan dan keluarga berencana (Bangga Kencana) untuk mendukung percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Di saat yang bersamaan, Danone Indonesia memiliki payung integrasi program pencegahan stunting dalam payung ‘Bersama Cegah Stunting’. Melalui nota kesepahaman ini, BKKBN dan Danone Indonesia akan melakukan sinergi pada kedua program ini.

"Melalui visi One Planet One Health, kami percaya bahwa kesehatan bumi dan manusia harus berjalan bersama, termasuk dalam pencegahan stunting. Untuk itu, program Bersama Cegah Stunting hadir untuk membawa intervensi gizi spesifik dan sensitif dalam upaya pencegahan stunting. Beberapa diantaranya termasuk edukasi gizi dan pola hidup sehat bagi anak usia PAUD, SD, remaja, dan keluarga; edukasi kantin sehat; bantuan akses bersih; serta edukasi publik dan media massa," Vice President General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore