Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Juli 2021 | 02.37 WIB

Tambah 31 Ribu Kasus Diklaim Terkendali, Epidemiolog: Tanya Pak Luhut

Warga menangis di atas nisan keluarganya di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (29/6/2021). Lahan dengan luas mencapai dua hektar ini sedikitnya telah menampung 900 jenazah warga terpapar Covid-19 telah dimakam - Image

Warga menangis di atas nisan keluarganya di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (29/6/2021). Lahan dengan luas mencapai dua hektar ini sedikitnya telah menampung 900 jenazah warga terpapar Covid-19 telah dimakam

JawaPos.com - Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali, Luhut Binsar Pandjaitan menilai sejauh ini kasus Covid-19 masih terkendali. Hari ini saja, Selasa (6/7) kasus Covid-19 menyentuh rekor kasus dan kematian.

Kasus bertambah 31.189 orang dan kematian 728 jiwa. Menanggapi pernyataan Covid-19 disebut masih terkendali, Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono punya pendapat berbeda.

"Terkendali itu? Seperti apa sih terkendalinya, kalau wabah itu harusnya kalau diatasi adalah istilahnya terkontrol. Artinya kasusnya sudah turun sampai seminimal mungkin. Itu artinya," katanya kepada JawaPos.com Selasa (6/7).

"Kalau terkendali saya enggak tahu artinya. Jadi, terkendali apa maksudnya? Tanya aja Pak Luhut apa artinya. Kalau terkontrol, artinya kasusnya sudah minimal, kemudian pertambahan kasus tak mungkin lagi meningkat," tambahnya.

Terkait tingginya kasus dan kematian, Tri Yunis mengungkapkan selama ini banyak kasus positif dan kematian di masyarakat masih belum terdata. Khususnya kasus positif dengan metode tes swab Antigen.

"Banyak kasus di masyarakat, seharusnya itu didata oleh komando yang mengepalai PPKM Darurat. Harusnya didata. Kasus yang ada di rumah-rumah di masyarakat, harusnya bisa didata oleh Pak RT. Meskipun kalau mau dilabel kasus itu suspek. Karena pada umumnya, kasus yang ada di masyarakat pada umumnya swab antigen positif," jelasnya.

Mirisnya lagi, beberapa pasien yang meninggal karena isolasi mandiri atau isoman, tidak dikonfirmasi positif oleh PCR. Lalu ada juga yang dimakamkan tidak dengan protokol Covid-19 karena tidak diperiksa atau dikonfirmasi dengan PCR.

"Yang memakamkan, melakukan protokol itu adalah masyarakat. Itu terjadi di RW saya, saya melihat dari jauh, saya sedih begitu. Kalau di masyarakat dengan swab antigen itu kan statusnya suspek. Yang terkonfirmasi itu jika dinyatakan oleh PCR di RS," ujarnya.

Pasien meninggal saat isoman, kata dia, ada pula yang sebelumnya tak melaporkan dirinya sakit ke Puskesmas. Maka saat dimakamkan, tidak dengan protokol Covid-19.

"Seram sekali situasinya. Pasti ada yang dikuburkan dengan tidak protokol Covid-19. Jadi pemandu PPKM Darurat harus tahu. Pasti ada yang enggak lapor ke Puskesmas. Ada juga yang mungkin berbohong. Diperiksa keluarganya bisa negatif positif. Situasinya sekarang semakin seram," ungkapnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore