Lula Lahfah. (Instagram @lulalahfah)
JawaPos.com - Meninggalnya selebgram Lula Lahfah, Sabtu (24/1), akibat henti jantung menyita perhatian publik. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa edukasi kesehatan dasar masih sangat dibutuhkan masyarakat.
Salah satu kekeliruan yang kerap terjadi adalah menyamakan nyeri ulu hati akibat GERD dengan gejala serangan jantung. Padahal, keduanya memang bisa tampak mirip di awal, tetapi risikonya sangat berbeda.
Kepada JawaPos.com, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FICA, mengatakan kemiripan gejala inilah yang sering membuat orang lengah. “Banyak pasien datang terlambat karena mengira keluhannya hanya GERD atau maag biasa,” ujarnya.
Pada GERD, keluhan umumnya berupa rasa panas di dada hingga leher atau nyeri perih di ulu hati. Gejala ini sering muncul setelah makan, saat berbaring, atau pada malam hari.
GERD juga kerap disertai mual, rasa asam di mulut, hingga sesak mendadak. Keluhan tersebut biasanya berkaitan dengan posisi tubuh dan aktivitas lambung.
Sementara itu, serangan jantung memiliki karakter nyeri yang berbeda. Rasa tidak nyaman di dada umumnya berat, tertekan, atau terasa seperti dihimpit.
Meski demikian, serangan jantung juga bisa disertai nyeri ulu hati dan mual. Kondisi inilah yang membuat banyak orang keliru menafsirkan tanda bahaya.
Menurut dr Vito, ada ciri penting yang lebih mengarah ke serangan jantung. “Biasanya disertai keringat dingin, sesak napas, dan nyeri yang bisa menjalar ke lengan, leher, atau punggung,” katanya.
Pada sebagian orang, gejala serangan jantung bahkan tidak muncul sebagai nyeri dada. Hal ini sering terjadi pada perempuan, lansia, atau penderita diabetes.
Pada kelompok tersebut, serangan jantung bisa terasa seperti gangguan lambung biasa. Akibatnya, penanganan sering terlambat dan risiko komplikasi meningkat.
Pertanyaan lain yang sering muncul di masyarakat adalah soal nyeri tekan di ulu hati. Banyak yang beranggapan, jika ditekan terasa sakit berarti hanya GERD.
Dr Vito menjelaskan bahwa anggapan tersebut memang ada benarnya. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan patokan tunggal.
“Nyeri karena GERD sering bertambah saat ulu hati ditekan, tetapi ada pasien yang memiliki GERD kronis dan pada saat bersamaan juga mengalami serangan jantung,” jelasnya. Dua kondisi ini dapat terjadi bersamaan dan saling menutupi gejala.
Hal paling penting yang perlu dipahami, kata dr Vito, adalah bahwa GERD dan penyakit jantung merupakan dua penyakit yang berbeda. “GERD tidak menyebabkan sumbatan jantung, dan sumbatan jantung tidak menyebabkan GERD,” tegasnya.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
