Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 September 2025 | 18.26 WIB

Kenali Toxic Relationship dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Remaja

Ilustrasi dampak toxic relationship terhadap kesehatan mental remaja. ( Dok. freepik) - Image

Ilustrasi dampak toxic relationship terhadap kesehatan mental remaja. ( Dok. freepik)

JawaPos.com – Fenomena toxic relationship kini semakin mengkhawatirkan. Tidak sedikit remaja yang terjebak dalam hubungan tidak sehat hingga mengalami depresi, kecemasan, bahkan trauma emosional. Hubungan yang seharusnya menjadi ruang aman, justru berubah menjadi sumber luka batin yang membahayakan kesehatan mental generasi muda.

Dilansir dari Alodokter dan Halodoc, toxic relationship sendiri dipahami sebagai interaksi yang sarat dengan perilaku merusak. Bentuknya bisa berupa kritik berlebihan, pelecehan emosional, hingga pengabaian. Hubungan beracun ini dapat terjadi dalam percintaan, keluarga, maupun pertemanan.

Salah satu dampak paling nyata adalah terganggunya kesehatan mental remaja. Mereka yang terjebak di dalamnya berisiko tinggi mengalami stres berkepanjangan, depresi, hingga gangguan kecemasan yang sulit dikendalikan.

Komunikasi yang tidak sehat menjadi pemicu utama. Kritik yang menjatuhkan, hinaan, serta keengganan untuk mendengarkan mampu mengikis rasa percaya diri. Akibatnya, hubungan yang seharusnya memberi dukungan justru menjadi sumber tekanan.

Dalam jangka panjang, remaja juga berisiko terisolasi dari lingkungan sosialnya. Banyak yang akhirnya menutup diri, enggan berinteraksi, dan terjebak dalam kesepian. Kondisi ini memperparah masalah mental yang sudah mereka alami.

Tak hanya itu, harga diri remaja pun bisa runtuh. Perlakuan merendahkan secara berulang membuat mereka merasa tidak berharga. Keraguan terhadap kemampuan diri sendiri muncul, bahkan memadamkan keyakinan untuk meraih impian.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders mengungkapkan, toxic relationship terbukti meningkatkan risiko stres dan kecemasan. Sebaliknya, hubungan yang sehat dapat memberikan rasa aman, kenyamanan emosional, serta motivasi untuk berkembang.

Dampak lain yang tak kalah berbahaya adalah hilangnya kebiasaan positif. Banyak remaja mulai meninggalkan rutinitas olahraga, pola tidur sehat, hingga perawatan diri. Bahkan, sebagian besar mengabaikan kebersihan pribadi karena terlalu larut dalam energi negatif.

Toksisitas dalam hubungan bisa memicu pola pikir negatif. Energi negatif yang terbawa ke kehidupan sehari-hari membuat remaja memandang dunia dengan pesimis dan penuh tekanan.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda toxic relationship sejak dini. Ciri-cirinya dapat berupa pelecehan verbal, Kekerasan fisik, rasa cemburu berlebihan, selalu dikontrol oleh pasangan, selalu dicurigai dan dikekang, hingga kurangnya dukungan emosional dari pasangan.

Untuk mengatasi toxic relationship, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Langkah pertama adalah menyadari dan mengakui bahwa hubungan yang dijalani memang termasuk kategori tidak sehat. Setelah itu, penting untuk mengevaluasi kembali diri dengan menanyakan, “Apakah hubungan ini membuat saya kehilangan rasa percaya diri dan merasa tertekan?” Sikap asertif juga dibutuhkan, yakni dengan berani mengkomunikasikan perasaan secara jujur dan tegas.

Di sisi lain, korban perlu mengurangi ekspektasi terhadap pasangan yang toksik, karena perubahan sejati hanya bisa terjadi atas kemauan orang tersebut sendiri. Fokus pada diri sendiri juga menjadi kunci, misalnya dengan melakukan aktivitas yang menenangkan seperti yoga, meditasi, atau perawatan diri.

Selain itu, batasi waktu bersama orang-orang yang hanya menambah stres dan tidak memberikan kebahagiaan. Terakhir, carilah lingkungan pertemanan dengan energi positif yang dapat menjadi sistem pendukung untuk keluar dari hubungan yang toxic.

Toxic relationship tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan, hubungan tidak sehat ini bisa merusak masa depan generasi muda. Dengan kesadaran, dukungan, dan penanganan yang tepat, remaja dapat kembali membangun hubungan yang sehat sekaligus menjaga kesehatan mentalnya. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore