Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 September 2025 | 16.58 WIB

Sering Terjebak dalam Pola Pikir Buruk? Kenali Catastrophizing dan Cara Mengatasinya

Seorang pria yang sedang mengalami stres (dok. freepik) - Image

Seorang pria yang sedang mengalami stres (dok. freepik)

JawaPos.com - Catastrophizing adalah pola pikir negatif ketika seseorang berfokus pada kemungkinan terburuk dan meyakini hal itu akan terjadi, meskipun tidak realistis. Terapi dan obat-obatan dapat membantu mengurangi atau menghentikan kebiasaan ini.

Pola pikir ini termasuk distorsi kognitif. Contoh umum misalnya, “Jika saya gagal ujian ini, saya akan gagal sepanjang hidup,” atau “Jika pasangan saya meninggalkan saya, saya tidak akan pernah bahagia lagi”. Dokter sering menyebutnya sebagai “magnifying” karena situasi yang kecil dianggap jauh lebih parah daripada kenyataannya.

Melansir Medical News Today, catastrophizing dapat memperburuk kondisi fisik dan mental. Misalnya, penderita nyeri kronis yang cenderung berpikir demikian bisa merasakan nyeri lebih hebat.

Penyebab Utama Catastrophizing

Belum ada kesepakatan tunggal tentang penyebab pasti, namun beberapa faktor diduga berperan. Depresi dapat membuat seseorang terus memikirkan emosi negatif. Kecemasan yang tinggi juga meningkatkan risiko.

Selain itu, perbedaan dalam sistem pengaturan perilaku otak (BIS-BAS) dapat memengaruhi kecenderungan ini. Sensitivitas interoseptif, yaitu kepekaan berlebihan terhadap perubahan tubuh seperti detak jantung, juga bisa memicu kekhawatiran berlebih.

Trauma masa kecil, pengalaman kejadian menakutkan, dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) turut meningkatkan peluang seseorang untuk mengalami catastrophizing.

Kecemasan sering berkaitan erat dengan pola pikir katastrofik. Orang dengan gangguan kecemasan cenderung khawatir berlebihan terhadap situasi seperti ujian, pergi sendiri, atau interaksi sosial.

Perbedaan utama antara kecemasan dan catastrophizing adalah kecemasan kadang memiliki manfaat, misalnya membantu melindungi diri dari bahaya. Sebaliknya, catastrophizing tidak memberi keuntungan apa pun dan justru menyita energi emosional.

Depresi juga dapat memicu pikiran katastrofik karena rasa putus asa berkepanjangan. Orang yang depresi kerap membayangkan skenario terburuk dalam berbagai situasi.

Catastrophizing pada Nyeri Kronis

Istilah “pain catastrophizing” merujuk pada kekhawatiran berlebihan terhadap rasa sakit, merasa tidak berdaya, dan sulit mengabaikan ketidaknyamanan. Studi tahun 2019 menunjukkan tingkat tertinggi perilaku ini pada penderita nyeri menyeluruh.

Tinjauan tahun 2020 menegaskan bahwa pikiran katastrofik dapat meningkatkan intensitas nyeri dan membuatnya lebih melemahkan. Namun, sebagian pihak menilai istilah ini dapat menstigma penderita nyeri kronis karena terkesan meremehkan pengalaman mereka.

Pengobatan Medis dan Terapi Mendukung

Setiap orang wajar merasakan takut dan cemas sesekali, tetapi kekhawatiran terus-menerus memerlukan perhatian khusus. Jika ada kondisi medis seperti depresi, dokter mungkin meresepkan antidepresan.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore