
Seorang pria yang sedang mengalami stres (dok. freepik)
JawaPos.com - Catastrophizing adalah pola pikir negatif ketika seseorang berfokus pada kemungkinan terburuk dan meyakini hal itu akan terjadi, meskipun tidak realistis. Terapi dan obat-obatan dapat membantu mengurangi atau menghentikan kebiasaan ini.
Pola pikir ini termasuk distorsi kognitif. Contoh umum misalnya, “Jika saya gagal ujian ini, saya akan gagal sepanjang hidup,” atau “Jika pasangan saya meninggalkan saya, saya tidak akan pernah bahagia lagi”. Dokter sering menyebutnya sebagai “magnifying” karena situasi yang kecil dianggap jauh lebih parah daripada kenyataannya.
Melansir Medical News Today, catastrophizing dapat memperburuk kondisi fisik dan mental. Misalnya, penderita nyeri kronis yang cenderung berpikir demikian bisa merasakan nyeri lebih hebat.
Penyebab Utama Catastrophizing
Belum ada kesepakatan tunggal tentang penyebab pasti, namun beberapa faktor diduga berperan. Depresi dapat membuat seseorang terus memikirkan emosi negatif. Kecemasan yang tinggi juga meningkatkan risiko.
Selain itu, perbedaan dalam sistem pengaturan perilaku otak (BIS-BAS) dapat memengaruhi kecenderungan ini. Sensitivitas interoseptif, yaitu kepekaan berlebihan terhadap perubahan tubuh seperti detak jantung, juga bisa memicu kekhawatiran berlebih.
Trauma masa kecil, pengalaman kejadian menakutkan, dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) turut meningkatkan peluang seseorang untuk mengalami catastrophizing.
Kecemasan sering berkaitan erat dengan pola pikir katastrofik. Orang dengan gangguan kecemasan cenderung khawatir berlebihan terhadap situasi seperti ujian, pergi sendiri, atau interaksi sosial.
Perbedaan utama antara kecemasan dan catastrophizing adalah kecemasan kadang memiliki manfaat, misalnya membantu melindungi diri dari bahaya. Sebaliknya, catastrophizing tidak memberi keuntungan apa pun dan justru menyita energi emosional.
Depresi juga dapat memicu pikiran katastrofik karena rasa putus asa berkepanjangan. Orang yang depresi kerap membayangkan skenario terburuk dalam berbagai situasi.
Catastrophizing pada Nyeri Kronis
Istilah “pain catastrophizing” merujuk pada kekhawatiran berlebihan terhadap rasa sakit, merasa tidak berdaya, dan sulit mengabaikan ketidaknyamanan. Studi tahun 2019 menunjukkan tingkat tertinggi perilaku ini pada penderita nyeri menyeluruh.
Tinjauan tahun 2020 menegaskan bahwa pikiran katastrofik dapat meningkatkan intensitas nyeri dan membuatnya lebih melemahkan. Namun, sebagian pihak menilai istilah ini dapat menstigma penderita nyeri kronis karena terkesan meremehkan pengalaman mereka.
Pengobatan Medis dan Terapi Mendukung
Setiap orang wajar merasakan takut dan cemas sesekali, tetapi kekhawatiran terus-menerus memerlukan perhatian khusus. Jika ada kondisi medis seperti depresi, dokter mungkin meresepkan antidepresan.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
